Aku merasakan sentuhan hangat yang lembut, aku ingin tahu siapa
yang tengah menyentuh pipi tambunku, kupaksakan diri agar aku mampu memisahkan
kelopak mataku yang masih sangat ingin berdekatan.
“Ah, mamah..” gumamku kecewa.
“Bangun, Sayang.. Papah udah nunggu kita buat jama’ah sholat
subuh,” ucapnya lembut penuh kasih sayang. Aku tak menjawab, namun aku segera
beranjak dan menyuguhkan senyum manisku meski kelopak mataku belum terpisah
sempurna.
Kini aku sudah mengenakan pakaian rapih, mamah dan papah tengah
menikmati sarapan pagi dalam hening. Sedangkan aku hanya memperhatikan mereka
dengan seksama, damai rasanya jika sepagi ini sudah melihat wajah cerah mamah
dan papah.
“Ayo sarapan, Sayang.. atau masakan mamah kurang enak?” tanya mamah
lembut begitu selesai sarapan. Aku hanya menggeleng keras sambil merilik
kalender di sampingku.
“Karena hari valentine jadi gak mau sarapan nasi??” tanya mamah
lagi.
“Bukan karena hari valentine, mah.. tapi karena ini hari kamis,
Sofi makan nanti sore aja kalo udah maghrib,” jawabku lembut sambil tersenyum
nakal.
“Oya mamah lupa, Sayang.. anak mamah kan rajin puasa, tapi kenapa
ikutan mamah ama papah sarapan??”
“Gak papa kok, mah.. seneng aja liat mamah ama papah tiap hari
selalu kompak.”
“Ya udah kita berangkat yuk..! papah udah selesai nih sarapannya,”
ajak papah sambil melirik ke arahku dan ke arah mamah secara bergantian. Aku
pun mengangguk pelan lalu bergegas mengecup punggung tangan mamah.
*^*^*^*
Aku tertegun sendiri di samping kampusku, saat kumenengadah tak
sengaja kudapati langit tengah tersenyum simpul setelah semalaman ia menangis
pilu, benar-benar senyum yang memukau, kolabirasi warna yang menakjubkan,
merah, kuning, dan hijau melakat erat pada warna biru cerah. Dan hanya Tuhan
yang mampu menorehkan garis simpul menawan di atas hamparan atap biru.
“Pagi, Sofi.. pelanginya indah kan?” Sapa gadis manis di sampingku
yang berhasil mengagetkanku.
“Pagi juga, La..,”
“Keliatannya kok seneng banget? Gue aja yang namanya Nila gak
begitu suka pelangi..”
“Bagus kalo gituh, jadi kan kita gak perlu rebutan pelangi, karena
hanya aku yang suka..”
“Emmm bener juga yah?” Sahut Nila lirih sambil mengangguk-anggukan
kepalanya. Aku hanya tersenyum tipis memperhatikan tingkahnya.
“Hari ini kamu sengaja ngeping ya, La?” tatapanku menelusuri setiap
akesoris yang dikenakan Nila, dari mulai baju, tas, gelang, cincin sampe
sepatunya juga ikutan ping.
“Hehehe, iya gituh, La.. aku juga udah dapat kartu ucapan valentine
dan coklat love-love gituh..,” Nila mulai pamer-pamer ria.
“Oya?? Dari siapa, La?”
“Dari Edo, Fi.. Emang Edo belum ngasih ke lu?? Gue kan cuma
temennya, Fi..”
“Emang ada peraturannya kalo ngasih ucapan valentine harus ke
pacarnya dulu gituh?” sahutku enteng menyembunyikan getir di hatiku.
“Gak ada sih.. ya mungkin Edo mau ngasih kejutan yang lebih buat
lu, Fi..”
“Hahaha, kebiasaan plin-plan, disanggah sedikit aja langsung
ngikut, makanya kalo kamu presentasi pasti kelas ribut..,” aku berusaha
memamerkan tawa renyahku, namun nampaknya Nila menangkap kegetiran dalam
suaraku, ia pun mngernyitkan dahi tanpa sungkan.
“Edo gak bakalan ngasih ucapan valentine ama aku, La.. Soalnya
papah udah mengingatkan kita, katanya kasih sayang umat islam tuh setiap saat,
gak boleh cuma pas hari valentine doang, makanya Edo ngasihnya ke kamu, selain
aku kan cuma kamu sahabat satu-satunya yang sangat berarti buat dia,” paparku
panjang lebar hingga membuat Nila kembali mengangguk-anggukan kepalanya.
“Oh gituh yah, La.. ya udah kita ke kelas yuk.. gue mau presentasi
ilmu filsafat pendidikan nih, lu siap-siap bantuin gue jawab pertanyaan
anak-anak yah?” ajak Nila manja sambil menggandeng lenganku.
*^*^*^*
Begitu jam kuliah usai, Nila menghilang begitu saja, nampaknya ia
sudah punya acara sendiri, aku pun memustuskan untuk segera pulang ke rumah dengan
jalan kaki seperti biasanya, karena jarak kampus dan rumahku memang tidak
terlalu jauh, nampak beberapa anak seusiaku keluar kampus bersama pasangannya
masing-masing, hanya aku yang sendiri, kuedarkan pandanganku berharap bisa
menemukan Edo tengah menghampiriku bersama Nila seperti biasanya, kami bertiga
selalu pulang bersama karena jadwal kuliah kami kebetulan sama. Namun tetap tak
ada, terpaksa aku pulang bersama debu yang berterbangan garang akibat ulah deru
bising kendaraan.
Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu?
Ringtone HP-ku mengalun merdu, dengan sigap jemariku meraih HP
dalam tasku.
“Assalamu’alaikum,” sapaku pada Edo yang berada di sebrang sana.
“Wa’alaikum salam,” sahut Edo singkat.
“Kamu lagi di mana, Do?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Aku ada di rumah Nila, Fi.. kamu bisa ke sini sekarang?”
“Oke, aku susul kalian sekarang, tapi kalo agak lama maaf yah..
belum ada taxi lewat..”
“Iya, Sayang.. hati-hati yah?” ucapnya lembut sebelum menutup
percakapan.
*^*^*^*
Ternyata tak sesuai dugaanku, kini aku sudah berada di halaman
rumah Nila tanpa harus menunggu lama, namun aku tak segera menghubungi Edo, aku
mau mengagetkan mereka berdua, kuayunkan kakiku perlahan agar tak menimbulkan
irama derap langkahku.
Dari celah-celah jendela rumah Nila aku bisa melihat mereka berdua
tengah bercanda ria, di depan mereka ada kue tart dengan lilin bertuliskan
namaku, aku menatap mereka penuh haru, ternyata mereka mengingat hari ulang
tahunku, namun mataku mulai membola begitu melihat Edo mengacak-ngacak rambut
Nila, dari tempat persembunyianku aku memang tak bisa mendengar percakapan
mereka, namun aku bukan lagi anak remaja yang tak mengerti apa-apa. Deri wajah
mereka, tampaknya mereka sangat gembira, cubit-cubitan pun mulai mewarnai senda
gurau mereka, hingga air mataku meleleh saat Edo mengecup mesra kening Nila.
Aku memang tak pernah mengharapkan Edo memperlakukanku seperti ia
memperlakukan Nila, karena agamaku melarangnya, tapi bukan berarti aku ikhlas
ia melakukannya pada temanku. Meski saat ini aku tak mau diperlakukan seperti
itu tapi aku menginginkannya kelak, saat ia telah menjadi suamiku.
Kupupuk kembali rasa percayaku, dan terpaksa kuhapus jejak lelehan
air mataku dengan kerudung yang kukenakan, andai ada yang memberiku tissue??
Gumamku pilu pada hening yang menatapku simpatik.
“Kenapa lu gak masuk, Fi..?” tiba-tiba saja Nila sudah ada di
sampingku.
“Aku cuma pengen liat bunga-bunga di halaman rumahmu sebentar,
La..”
“Oh.. kalo gitu ayo kita masuk! Udah ditunggu sama Edo noh..”
seperti biasa Nila menggamit lenganku. Aku pun mengikutinya.
DOOR!!!!
Satu balon meletus tepat di atasku, dan menaburkan kertas
kerlap-kerlip yang menyerupai gerimis syahdu. Saat itu pula Nila melepaskan
pegangan tangannya dan menyanyikan lagu Happy Birt Day bersama Edo untukku. Edo
tampak lucu dengan topi kerucut yang ia pakai, tapi aku menyukai kue tart yang
Edo bawa, berbentuk hati biru dan di atasnya bertuliskan ucapan HBD yang
tertuju padaku.
“Ayo tiup lilinnya, Sayang.. dan jangan lupa make a wish,” tuturnya
lembut sambil tersenyum ke arahku, aku pun mengikuti apa yang ia katakan.
“Potong kuehnya! Potong kuehnya! Potong kuehnya sekarang juga,
sekarang juga, sekarang juga..!” giliran Nila memberi komando dengan sepenggal
nyanyian.
“Oke, potongan pertama aku kasih buat Edo yah..” tuturku sambil
memberikan potongan kueh di atas piring mini.
“Nah, sekarang giliran buat kamu, La..” aku pun memberikan potongan
yang sama pada Nila.
“Makasih, Fi..” sahut Nila tulus sambil menyuapi Edo dengan
potongan kueh yang kuberikan.
“Makasih, Sayang..” tutur Edo sambil mengunyah kue yang Nila
berikan. Mataku memanas, aku pun berusaha mencengkram keras kristal bening
dengan kelopak mataku, berharap ia tak meleleh ke pipiku.
“Tak seharusnya aku cemburu?? Bukankah Nila memang teman lama Edo?” bisik hatiku berusaha melawan getir yang kian menyesakkan dada.
Untungnya Edo dan Nila tak menyadari kegetiran yang tengah aku rasakan, mereka
terus bercanda tawa seperti biasa, namun aku bisa menyaksikan mereka berdua
sering mencuri-curi pandang. Kumenatap mata Edo dalam, berusaha menyelusup ke
dasar hatinya dan mencari sedikit ruang yang ia sediakan atas namaku, namun
getir berbisik lembut pada segores luka yang menganga, bahwa aku tak ada di hatinya.
“Fi, natap Edonya serius banget lu.. kaya mau ditinggal jauh aja,”
lagi-lagi Nila mengagetkanku.
“Mumpung masih bisa, La,” sahutku lesu.
“Kok kayaknya gak semangat banget, Sayang?” Edo mulai
memperhatikanku. Ingin rasanya aku menjawab “Aku sakit, Do.. setiap kali
harus aku yang menyimak keakraban dan kemesraan kalian.”, namun kata-kata
itu hanya menggema di ruang dasar lukaku.
“Tuh kan nglamun lagi.. dari pada nglamun mendingan sayang maen
piano aja gih! Kangen ama suara sayang yang merdu nih..,” pinta Edo manja, aku
pun melangkah ke ruang tengah, menghampiri piano kesayangan Nila, mereka berdua
pun mengekor di belakangku.
Kupejamkan mataku begitu jemariku mulai menari lincah di atas
nuts-nuts piano yang sudah bersahabat denganku.
Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu?
Di hatiku terukir namamu
Cinta, rindu beralih satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu?
Telah kunyanyikan alunan-alunan senduku
Telah kubisikkan cerita-cerita gelapku
Telah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku tak kan bisa..
Sentuh hatimu..
Prok, Prok, Prok..
Tepuk tangan Edo dan Nila mengakhiri permainan pianoku.
“Lu selalu bisa bermain lebih baik dari gua, Fi..,” Nila
mendekatiku dan menepuk-nepuk pundakku. Aku hanya tersenyum tipis.
“Bener kata Nila, selain itu sayang juga bener-bener menghayati,
sampe nangis gituh..” Edo menyadarkanku untuk segera menghapus embun bening
yang bergelayut sendu di sudut mataku.
“La, Do, gua pulang duluan yah?” pamitku karena ingin segera
menenangkan gemuruh hatiku.
“Oke, gua antar yah, Sayang..,” sahut Edo sambil berjalan
mengikutiku, namun aku menangkap gemericik hujan di balik mata bening Nila,
kurasa Edo pun menyadarinya.
“Fi, kamu bisa pulang sendiri? Aku gak mungkin ninggalin Nila buat
beres-beres sendirian,” sahutnya pelan, mungkin ia merasa tak enak hati padaku.
“Tentu bisa, Do.. aku bukan anak kecil lagi..” aku menyahut dengan
menenggelamkan kepalaku. Dan berlalu meninggalkan Edo, namun hatiku merintih
hingga badanku terasa lunglai, aku duduk di depan jendela rumah Nila seperti
semula, kulihat Edo menghapus air mata Nila. Aku tak tahu persis mengapa Nila
menangis, tapi aku benar-benar iri pada Nila yang bisa mendapat perhatian besar
dari kekasihku.
“La.. kenapa lu nangis?” kini aku bisa mendengar suara Edo, karena
kali ini jarak mereka dariku tak terlalu jauh.
“Apa saat ini gue udah ada di hati lu, La?” lanjut Edo serius
sambil menatap Nila dalam. Nila hanya mengangguk pelan sambil menggigit bibir
bawahnya. Tak berapa lama ia menggeleng keras.
“Gak, Do.. gue udah terlambat mencintai elu, sekarang lu milik
Sofi, lu gak boleh nanya kaya gituh ama gue, gue cuma teman lu, gak lebih..,”
tutur Nila parau di sela-sela tangisnya.
“Tapi selama ini gue gak bisa mencintai Sofi kaya gue mencintai lu,
La..,” Edo meraih Nila yang tergugu dalam pelukannya. Air mataku perlahan
menetes lagi, lagi, lagi, dan lagi hingga bertambah deras dan berhasil
membasahi pipi dan jilbabku. Hatiku yang tadi sempat tergores kini kembali
dicabik-cabik oleh belati tajam, hingga menjadi serpihan-serpihan kecil yang
mudah terseok-seok angin, dan tak mudah lagi untuk dirajut kembali, sekalipun
aku mendatangkan penyulam handal, aku butuh beberapa tahun menunggu penyulam
hebat itu bergelut dengan jemari lincah dan tali-tali kuatnya. Namun serpihan
kecil ini masih bisa bergeming.
“Mengapa kau membawaku hadir di antara kalian, jika aku tak pernah
ada di hatimu, Do?”
SELESAI
Nama : Wina
Hasanah
TTL : Brebes, 11 September 1992
Alamat : PPTQ Baitul Abidin Darussalam RT 01 RW 10
Dusun
Sarimulyo kelurahan Kalibeber, kecamatan Mojotengah, kabupaten Wonosobo, Jawa
Tengah 56351
Akun FB : Diajeng Albarbasy Menggapaihimmah
Nomor HP : 085729765088
081902212424