Minggu, 21 April 2013

Dark~13



Aku tertegun, sepagi ini aku menemukan bercak merah menyerupai agka 13 di telapak tanganku, kupertajam tatapanku, iya.. tidak salah lagi, ini memang darah. Tapi.. tak kutemukan sedikit pun luka di tanganku, kuteliti ulang namun tetap tidak ada, lalu dari mana darah ini berasal??
Dan anehnya, tiba-tiba saja ada getar rasa tak menentu dalam jiwaku, aku seperti menemukan kekuatan aneh, tapi ada pula rasa sedih yang menggelayut sendu di dasar hatiku.
“Ada apa ini??? Kenapa sepagi ini jiwaku sudah diaduk oleh rasa yang sama sekali tak bisa kumenngerti??” Rutuk batinku bimbang.
“Ah, sudahlah! Seberapa keras pun aku berfikir, aku tetap tak akan menemukan jawabannya,” sahut batinku lagi.
*^*^*^*
Seperti biasa setiap pagi aku selalu menyempatkan sarapan bersama Jimmy dan Janne, aku menyukai mereka, mungkin lebih tepatnya aku menyayangi mereka karena mereka telah merawatku hingga sebesar ini, meski mereka tak banyak berbicara padaku seperti yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orangtua pada anak-anaknya, Tapi bagaimanapun aku merasa beruntung bisa dibesarkan oleh dua profesor ternama di kota ini.
“Makan yang benar, Ely..! cepat habiskan roti di tanganmu!” teguran Janne mengingatkanku pada bau darah di tanganku yang belum juga hilang, meski sudah kubasuh berulang kali. Aku ingin menanyakannya pada Janne tapi aku tidak terbiasa bercakap-cakap dengan Janne untuk menanyakan hal-hal sepele seperti ini
“Baik, Mom..,” akhirnya hanya kalimat itu yang bisa kuucapkan.
*^*^*^*
Malam ini aku merasa kacau, kutatap hati dalam kotak kaca yang pernah dihadiahkan Jimmy di hari ulang tahunku yang kesepuluh, di atas kaca bagian depan tertulis 13-Januari-1996, bertepatan dengan hari lahirku. Aku tak pernah tahu mengapa Jimmy menghadiahkannya padaku, mungkinkah karna dia sangat menyayangiku?? Tapi ini hati siapa?? Mengapa diawetkan dalam kotak kaca selama bertahun-tahun??
Tepat pukul 00.00 aku masih belum bisa memejamkan mataku, satu pesan masuk menggetarkan HP mungilku
HBD, Ely..
 Ambillah buket mawar di depan pintu kamarmu
Love
Your Mom
Seketika mataku membalak, benarkah Janne memberiku buket mawar?? Aku tak mau menerka-nerka lebih lama lagi, aku segera berlari dan kubuka pintu kamarku, benar.. ada buket mawar merah yang indah, kuraih dan segera kubuka kertas yang terselip dalam buket mawar itu.
Dear Ely..
13 januari 2013
HBD, Baby..
Genap 17 tahun usiamu, dan inilah saatnya kau tahu semuanya..
Prof. Jimmy dan Janne bukanlah orangtuamu, mereka adalah manusia biadab yang dulu membedah dadaku hidup-hidup untuk meneliti hatiku, tepat pukul 00.00 tgl 13 Januari 1996,  dengan alasan karena mereka penasaran kenapa hanya dengan hati yang tak seberapa besar manusia bisa menagis, tertawa, murung dan tersenyum.
Dan parahnya mereka memilih hatiku setelah melahirkanmu, Ely.. sekarang kau tahu arti tanggal 13 pada kotak kaca itu, kan?
Perlu kamu tahu juga, Jimmy menyimpannya untuk penelitian selama 10 tahun, dan selama itu aku merasa tersiksa, Jadi.. bunuhlah mereka malam ini juga, Ely..! jika kau ingin aku hidup kembali.
Jika kau tak membunuhnya maka kau tak akan pernah melihat ibu kandungmu, dan kau pun akan kehilangan hati dalam kotak kaca itu
Pilihan ada di tanganmu
Love
Your Mom
Tanganku bergetar hebat, aku tak pernah tahu mengapa ini terjadi padaku, tapi ini bukan saatnya aku lemah dan meratapi nasibku, aku harus memilih, iya.. aku harus membunuh Jimmy dan Jannne, aku ingin Mom kembali.
Kupererat genggamanku, hingga buket mawar merah tercekik, dan perlahan bunga mawar itu berubah menjadi lelehan darah yang nyinyir di pergelangan tanganku. Sedangkan ranting buket mawar itu berubah menjadi runcing dan tajam, menyerupai kumpulan pedang-pedang samurai.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar Jimmy dan Janne, seiring derap langkahku aku merasa ada kekuatan aneh merasuk dalam diriku.
Brruk!!
Aku melihat Jimmy dan Janne terjaga dan membulatkan mata bersamaan dengan kehadiranku, tanpa berfikir lagi aku segera berlari ke arah Janne dan menghujamkan ranting tajam tepat di jantungnya, dan kucabut secara kasar kemudian kembali kuhujamkan ke dada Jimmy, cipratan darah segar membasahi dadaku.
“A..akhirnya yang kami takutkan terjadi,” sahut Jimmy terbata-bata
“Kami ikhlas, Ely.. karena kami merasa salah,” ucap Janne sebelum terpejam untuk selamanya, aku kaget ternyata mereka sudah tahu tentang hal ini, dan mereka sengaja tak melawanku, aku merasa bersalah, namun aku memang telah dihadapkan dengan pilihan yang pelik, aku harus memilih antara Mom yang melahirkanku ataukah Jimmy dan Janne yang merawatku??
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarghh,” teriakku lantang sambil menghujamkan ranting ke dadaku, ternyata sesak sekali rasanya.
“Maafkan aku, Mom..” ucapku lirih saat melihat perempuan cantik berdiri di hadapanku dengan linangan air mata.

TAMAT

Nama : Wina Hasanah
TTL : Brebes, 11 September 1992
Alamat : Dusun Sarimulyo kelurahan Kalibeber, kecamatan Mojotengah, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah,
Akun FB : Diajeng Albarbasy Menggapaihimmah
Nomor HP : 085729765088
                     081902212424

Rasaku Tak Mungkin Keliru



Aku selalu berangkat kuliah paling awal sejak semester satu, dan alasanku untuk tetap seperti ini adalah Rehan, karna Rehan selalu jadi orang kedua yang datang di kelas setelah aku, ya.. kami berdua punya kebiasaan yang sama, menikmati hostpot kampus sebelum dosen pengampu datang, dan saat itulah aku akan menyuarakan gejolak hatiku dengan mengirimkan puisi-puisi singkat padanya, dialah makhluk yang selalu terlihat sempurna di mataku, yang sudah sejak lama kunantikan sambutan rasa darinya, tapi aku sadar, aku tak mungkin bisa menjamah cintanya karna dia tampak tak peduli padaku, padahal aku selalu sekelas dengannya sejak enam tahun lalu, tapi yang kudapat darinya hanya sekedar ucapan “Pagi, Echa..” Tapi aku tak mungkin menyalahkannya, karena selama ini aku pun tak pernah berani menyapanya, aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis kala ia berkenan menyapaku.
“Pagi, Echa..,” sapa Rehan saat memasuki kelas, seperti biasa aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis, namun jemariku langsung menari lincah di atas keyboard
Aku bahagia
pagi ini binar matamu telah mampu menggantikan mentari
 yang tengah redup tertutup gumpalan pekat
Tepat saat kuklik send, Rehan telah menyalakan obrolan, dan dia membalas dengan cepat
Trims J
May I know who you are??
“Pagi, Echa.. Rehan..,” sapa Ririn begitu masuk kelas dan bergegas duduk di samping Rehan.
“Pagi juga..,” sahut Rehan singkat
“Lu ngapain sih, Re?? Sebelum kuliah selalu mlototin NB.. emangnya gak cape??” berondong Ririn, sambil melirik penuh arti padaku.
“Lu nanya kok pake jamaah gitu sih?? Satu-satu dong..!” Protes Rehan tak trima
“Oya, Rin.. Coba lu liat ini,” lanjut Rehan antusias sambil memamerkan layar notebooknya pada Ririn, Ririn pun dengan senang hati memperhatikan apa yang ditunjukan Rehan.
“Lu tahu gak ini akun siapa?? Gue penasaran banget nih, dia selalu ngirimin gue kata-kata yang bikin hati gue nyaman, tapi dia gak pernah mau bales pesan gue..,” nada bicara Rehan terdengar serius, Ririn beringsut mundur dari layar notebook Rehan, sedang aku tengah menyaksikan nyali dan rasaku yang berkacamuk, rasaku menuntutku untuk berteriak pada Rehan, “Itu gue, Re..,” tapi nyaliku mencegahnya.
“Masa lu gak tahu, Re? Itu gue.., gue yang tiap pagi nyapa lu di dunia maya, dan deketin lu di dunia nyata, gue udah berusaha nunjukin kalo gue suka sama lu, gue pengen lu duluan yang nembak gue, tapi ternyata lu gak peka, lu masih tetap datar-datar aja dan terpaksa kali ini gue jujur ama lu, gue gak peduli dengan mereka yang menganggap hal ini tabu, tapi gue beneran cinta lu, Re.., gue sayang eluuu..,” suara Ririn serak, sepertinya ia menahan tangis tapi aku lebih tercekat, hatiku merintih pilu, kucengkram erat kaca bening dengan kelopak mataku, aku tak mau kaca ini meleleh di pipiku, aku tak mengerti kenapa Ririn bersandiwara, dan memaksaku berjuang keras membendung gerimis yang tengah bergemericik di hatiku, hingga aku tak lagi mendengar apa yang dibicarakan Ririn dan Rehan.
*^*^*^*
Begitu jam kuliah berakhir, Ririn berlari menutup pintu kelas dari dalam dan berteriak lantang.
“Temen-temen.. jangan pulang dulu yah?? Gue mau traktir kalian di Resto depan, buat ngrayain hari jadi gue ama Rehan.”
Sepontan kelas menjadi gaduh sebagian berteriak “Horeeeeeeeeeee,” dan sebagian menggoda Ririn dan Rehan, hanya aku yang masih duduk kaku dan menunduk pilu, kali ini aku tak lagi mampu menahan rinai air mataku, aku semakin menunduk dalam, berharap tak ada yang menyadari keadaanku, satu persatu teman sekelasku berhamburan keluar, tak ada yang menyadariku tertinggal di kelas dengan bingkis kekecewaan. Jemariku mulai menari lincah di atas  keyboard notebook yang belum kumatikan
Inilah cintaku.. Meski sakit....
Dengan segenap keindahan cinta yang kumiliki
Aku akan mencoba tersenyum dan berkata
“I’m happy for you”
*^*^*^*
“Echa... tungguin gue..,” teriakannya menyesakkan dadaku, namun aku berusaha tegar dan berbalik menghadapnya.
“Kenapa akhir-akhir ini lu gak ke kampus??”
“Lagi males, Re.. gue duluan yah?” aku segera bergegas meninggalkan Rehan.
“Gue sayang lu, Cha..,” kali ini teriakkan Rehan benar-benar membuat jantungku berhenti untuk sepersekian detik, tak berapa lama aku merasa ada tangan kekar yang meraihku dalam pelukannya.
“Maafin gue, Cha.. gue emang bodoh, udah percaya ama Ririn gituh aja, tapi... puisi lu yang terakhir bikin gue sadar, akun itu milik lu, sekarang gue gak mungkin salah lagi karna waktu gue ngrayain hari jadi gue ama Ririn cuma lu yang gak dateng, dan gue tahu, lu satu-satunya orang yang tersakiti saat itu.”
 Selesai
Nama : Wina Hasanah
TTL : Brebes, 11 September 1992
Alamat : Dusun Sarimulyo kelurahan Kalibeber, kecamatan Mojotengah, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah,
Akun FB : Diajeng Albarbasy Menggapaihimmah
Nomor HP : 085729765088
                     081902212424

Adakah Aku di Hatimu??



Aku merasakan sentuhan hangat yang lembut, aku ingin tahu siapa yang tengah menyentuh pipi tambunku, kupaksakan diri agar aku mampu memisahkan kelopak mataku yang masih sangat ingin berdekatan.
“Ah, mamah..” gumamku kecewa.
“Bangun, Sayang.. Papah udah nunggu kita buat jama’ah sholat subuh,” ucapnya lembut penuh kasih sayang. Aku tak menjawab, namun aku segera beranjak dan menyuguhkan senyum manisku meski kelopak mataku belum terpisah sempurna.
Kini aku sudah mengenakan pakaian rapih, mamah dan papah tengah menikmati sarapan pagi dalam hening. Sedangkan aku hanya memperhatikan mereka dengan seksama, damai rasanya jika sepagi ini sudah melihat wajah cerah mamah dan papah.
“Ayo sarapan, Sayang.. atau masakan mamah kurang enak?” tanya mamah lembut begitu selesai sarapan. Aku hanya menggeleng keras sambil merilik kalender di sampingku.
“Karena hari valentine jadi gak mau sarapan nasi??” tanya mamah lagi.
“Bukan karena hari valentine, mah.. tapi karena ini hari kamis, Sofi makan nanti sore aja kalo udah maghrib,” jawabku lembut sambil tersenyum nakal.
“Oya mamah lupa, Sayang.. anak mamah kan rajin puasa, tapi kenapa ikutan mamah ama papah sarapan??”
“Gak papa kok, mah.. seneng aja liat mamah ama papah tiap hari selalu kompak.”
“Ya udah kita berangkat yuk..! papah udah selesai nih sarapannya,” ajak papah sambil melirik ke arahku dan ke arah mamah secara bergantian. Aku pun mengangguk pelan lalu bergegas mengecup punggung tangan mamah.
*^*^*^*
Aku tertegun sendiri di samping kampusku, saat kumenengadah tak sengaja kudapati langit tengah tersenyum simpul setelah semalaman ia menangis pilu, benar-benar senyum yang memukau, kolabirasi warna yang menakjubkan, merah, kuning, dan hijau melakat erat pada warna biru cerah. Dan hanya Tuhan yang mampu menorehkan garis simpul menawan di atas hamparan atap biru.
“Pagi, Sofi.. pelanginya indah kan?” Sapa gadis manis di sampingku yang berhasil mengagetkanku.
“Pagi juga, La..,”
“Keliatannya kok seneng banget? Gue aja yang namanya Nila gak begitu suka pelangi..”
“Bagus kalo gituh, jadi kan kita gak perlu rebutan pelangi, karena hanya aku yang suka..”
“Emmm bener juga yah?” Sahut Nila lirih sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Aku hanya tersenyum tipis memperhatikan tingkahnya.
“Hari ini kamu sengaja ngeping ya, La?” tatapanku menelusuri setiap akesoris yang dikenakan Nila, dari mulai baju, tas, gelang, cincin sampe sepatunya juga ikutan ping.
“Hehehe, iya gituh, La.. aku juga udah dapat kartu ucapan valentine dan coklat love-love gituh..,” Nila mulai pamer-pamer ria.
“Oya?? Dari siapa, La?”
“Dari Edo, Fi.. Emang Edo belum ngasih ke lu?? Gue kan cuma temennya, Fi..”
“Emang ada peraturannya kalo ngasih ucapan valentine harus ke pacarnya dulu gituh?” sahutku enteng menyembunyikan getir di hatiku.
“Gak ada sih.. ya mungkin Edo mau ngasih kejutan yang lebih buat lu, Fi..”
“Hahaha, kebiasaan plin-plan, disanggah sedikit aja langsung ngikut, makanya kalo kamu presentasi pasti kelas ribut..,” aku berusaha memamerkan tawa renyahku, namun nampaknya Nila menangkap kegetiran dalam suaraku, ia pun mngernyitkan dahi tanpa sungkan.
“Edo gak bakalan ngasih ucapan valentine ama aku, La.. Soalnya papah udah mengingatkan kita, katanya kasih sayang umat islam tuh setiap saat, gak boleh cuma pas hari valentine doang, makanya Edo ngasihnya ke kamu, selain aku kan cuma kamu sahabat satu-satunya yang sangat berarti buat dia,” paparku panjang lebar hingga membuat Nila kembali mengangguk-anggukan kepalanya.
“Oh gituh yah, La.. ya udah kita ke kelas yuk.. gue mau presentasi ilmu filsafat pendidikan nih, lu siap-siap bantuin gue jawab pertanyaan anak-anak yah?” ajak Nila manja sambil menggandeng lenganku.
*^*^*^*
Begitu jam kuliah usai, Nila menghilang begitu saja, nampaknya ia sudah punya acara sendiri, aku pun memustuskan untuk segera pulang ke rumah dengan jalan kaki seperti biasanya, karena jarak kampus dan rumahku memang tidak terlalu jauh, nampak beberapa anak seusiaku keluar kampus bersama pasangannya masing-masing, hanya aku yang sendiri, kuedarkan pandanganku berharap bisa menemukan Edo tengah menghampiriku bersama Nila seperti biasanya, kami bertiga selalu pulang bersama karena jadwal kuliah kami kebetulan sama. Namun tetap tak ada, terpaksa aku pulang bersama debu yang berterbangan garang akibat ulah deru bising kendaraan.
Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu?
Ringtone HP-ku mengalun merdu, dengan sigap jemariku meraih HP dalam tasku.
“Assalamu’alaikum,” sapaku pada Edo yang berada di sebrang sana.
“Wa’alaikum salam,” sahut Edo singkat.
“Kamu lagi di mana, Do?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Aku ada di rumah Nila, Fi.. kamu bisa ke sini sekarang?”
“Oke, aku susul kalian sekarang, tapi kalo agak lama maaf yah.. belum ada taxi lewat..”
“Iya, Sayang.. hati-hati yah?” ucapnya lembut sebelum menutup percakapan.
*^*^*^*
Ternyata tak sesuai dugaanku, kini aku sudah berada di halaman rumah Nila tanpa harus menunggu lama, namun aku tak segera menghubungi Edo, aku mau mengagetkan mereka berdua, kuayunkan kakiku perlahan agar tak menimbulkan irama derap langkahku.
Dari celah-celah jendela rumah Nila aku bisa melihat mereka berdua tengah bercanda ria, di depan mereka ada kue tart dengan lilin bertuliskan namaku, aku menatap mereka penuh haru, ternyata mereka mengingat hari ulang tahunku, namun mataku mulai membola begitu melihat Edo mengacak-ngacak rambut Nila, dari tempat persembunyianku aku memang tak bisa mendengar percakapan mereka, namun aku bukan lagi anak remaja yang tak mengerti apa-apa. Deri wajah mereka, tampaknya mereka sangat gembira, cubit-cubitan pun mulai mewarnai senda gurau mereka, hingga air mataku meleleh saat Edo mengecup mesra kening Nila.
Aku memang tak pernah mengharapkan Edo memperlakukanku seperti ia memperlakukan Nila, karena agamaku melarangnya, tapi bukan berarti aku ikhlas ia melakukannya pada temanku. Meski saat ini aku tak mau diperlakukan seperti itu tapi aku menginginkannya kelak, saat ia telah menjadi suamiku.
Kupupuk kembali rasa percayaku, dan terpaksa kuhapus jejak lelehan air mataku dengan kerudung yang kukenakan, andai ada yang memberiku tissue?? Gumamku pilu pada hening yang menatapku simpatik.
“Kenapa lu gak masuk, Fi..?” tiba-tiba saja Nila sudah ada di sampingku.
“Aku cuma pengen liat bunga-bunga di halaman rumahmu sebentar, La..”
“Oh.. kalo gitu ayo kita masuk! Udah ditunggu sama Edo noh..” seperti biasa Nila menggamit lenganku. Aku pun mengikutinya.
DOOR!!!!
Satu balon meletus tepat di atasku, dan menaburkan kertas kerlap-kerlip yang menyerupai gerimis syahdu. Saat itu pula Nila melepaskan pegangan tangannya dan menyanyikan lagu Happy Birt Day bersama Edo untukku. Edo tampak lucu dengan topi kerucut yang ia pakai, tapi aku menyukai kue tart yang Edo bawa, berbentuk hati biru dan di atasnya bertuliskan ucapan HBD yang tertuju padaku.
“Ayo tiup lilinnya, Sayang.. dan jangan lupa make a wish,” tuturnya lembut sambil tersenyum ke arahku, aku pun mengikuti apa yang ia katakan.
“Potong kuehnya! Potong kuehnya! Potong kuehnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga..!” giliran Nila memberi komando dengan sepenggal nyanyian.
“Oke, potongan pertama aku kasih buat Edo yah..” tuturku sambil memberikan potongan kueh di atas piring mini.
“Nah, sekarang giliran buat kamu, La..” aku pun memberikan potongan yang sama pada Nila.
“Makasih, Fi..” sahut Nila tulus sambil menyuapi Edo dengan potongan kueh yang kuberikan.
“Makasih, Sayang..” tutur Edo sambil mengunyah kue yang Nila berikan. Mataku memanas, aku pun berusaha mencengkram keras kristal bening dengan kelopak mataku, berharap ia tak meleleh ke pipiku.
“Tak seharusnya aku cemburu?? Bukankah Nila memang teman lama Edo?” bisik hatiku berusaha melawan getir yang kian menyesakkan dada. Untungnya Edo dan Nila tak menyadari kegetiran yang tengah aku rasakan, mereka terus bercanda tawa seperti biasa, namun aku bisa menyaksikan mereka berdua sering mencuri-curi pandang. Kumenatap mata Edo dalam, berusaha menyelusup ke dasar hatinya dan mencari sedikit ruang yang ia sediakan atas namaku, namun getir berbisik lembut pada segores luka yang menganga, bahwa aku tak ada di hatinya.
“Fi, natap Edonya serius banget lu.. kaya mau ditinggal jauh aja,” lagi-lagi Nila mengagetkanku.
“Mumpung masih bisa, La,” sahutku lesu.
“Kok kayaknya gak semangat banget, Sayang?” Edo mulai memperhatikanku. Ingin rasanya aku menjawab “Aku sakit, Do.. setiap kali harus aku yang menyimak keakraban dan kemesraan kalian.”, namun kata-kata itu hanya menggema di ruang dasar lukaku.
“Tuh kan nglamun lagi.. dari pada nglamun mendingan sayang maen piano aja gih! Kangen ama suara sayang yang merdu nih..,” pinta Edo manja, aku pun melangkah ke ruang tengah, menghampiri piano kesayangan Nila, mereka berdua pun mengekor di belakangku.
Kupejamkan mataku begitu jemariku mulai menari lincah di atas nuts-nuts piano yang sudah bersahabat denganku.
Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu?
Di hatiku terukir namamu
Cinta, rindu beralih satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu?
Telah kunyanyikan alunan-alunan senduku
Telah kubisikkan cerita-cerita gelapku
Telah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku tak kan bisa..
Sentuh hatimu..
Prok, Prok, Prok..
Tepuk tangan Edo dan Nila mengakhiri permainan pianoku.
“Lu selalu bisa bermain lebih baik dari gua, Fi..,” Nila mendekatiku dan menepuk-nepuk pundakku. Aku hanya tersenyum tipis.
“Bener kata Nila, selain itu sayang juga bener-bener menghayati, sampe nangis gituh..” Edo menyadarkanku untuk segera menghapus embun bening yang bergelayut sendu di sudut mataku.
“La, Do, gua pulang duluan yah?” pamitku karena ingin segera menenangkan gemuruh hatiku.
“Oke, gua antar yah, Sayang..,” sahut Edo sambil berjalan mengikutiku, namun aku menangkap gemericik hujan di balik mata bening Nila, kurasa Edo pun menyadarinya.
“Fi, kamu bisa pulang sendiri? Aku gak mungkin ninggalin Nila buat beres-beres sendirian,” sahutnya pelan, mungkin ia merasa tak enak hati padaku.
“Tentu bisa, Do.. aku bukan anak kecil lagi..” aku menyahut dengan menenggelamkan kepalaku. Dan berlalu meninggalkan Edo, namun hatiku merintih hingga badanku terasa lunglai, aku duduk di depan jendela rumah Nila seperti semula, kulihat Edo menghapus air mata Nila. Aku tak tahu persis mengapa Nila menangis, tapi aku benar-benar iri pada Nila yang bisa mendapat perhatian besar dari kekasihku.
“La.. kenapa lu nangis?” kini aku bisa mendengar suara Edo, karena kali ini jarak mereka dariku tak terlalu jauh.
“Apa saat ini gue udah ada di hati lu, La?” lanjut Edo serius sambil menatap Nila dalam. Nila hanya mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya. Tak berapa lama ia menggeleng keras.
“Gak, Do.. gue udah terlambat mencintai elu, sekarang lu milik Sofi, lu gak boleh nanya kaya gituh ama gue, gue cuma teman lu, gak lebih..,” tutur Nila parau di sela-sela tangisnya.
“Tapi selama ini gue gak bisa mencintai Sofi kaya gue mencintai lu, La..,” Edo meraih Nila yang tergugu dalam pelukannya. Air mataku perlahan menetes lagi, lagi, lagi, dan lagi hingga bertambah deras dan berhasil membasahi pipi dan jilbabku. Hatiku yang tadi sempat tergores kini kembali dicabik-cabik oleh belati tajam, hingga menjadi serpihan-serpihan kecil yang mudah terseok-seok angin, dan tak mudah lagi untuk dirajut kembali, sekalipun aku mendatangkan penyulam handal, aku butuh beberapa tahun menunggu penyulam hebat itu bergelut dengan jemari lincah dan tali-tali kuatnya. Namun serpihan kecil ini masih bisa bergeming.
“Mengapa kau membawaku hadir di antara kalian, jika aku tak pernah ada di hatimu, Do?”
SELESAI
Nama   : Wina Hasanah
TTL : Brebes, 11 September 1992
Alamat : PPTQ Baitul Abidin Darussalam RT 01 RW 10
Dusun Sarimulyo kelurahan Kalibeber, kecamatan Mojotengah, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah 56351
Akun FB : Diajeng Albarbasy Menggapaihimmah
Nomor HP : 085729765088
                     081902212424