Cerpen
Senin, 30 Maret 2020
MASA PRA AKSARA DI INDONESIA - ppt download
MASA PRA AKSARA DI INDONESIA - ppt download: KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT MASA PRAAKSARA JENIS MANUSIA PRAAKSARA KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT MASA PRAAKSARA KEHIDUPAN PADA MASA PRA AKSARA DI INDONESIA HASIL KEBUDAYAAN MASYARAKAT PRAAKSARA ASAL USUL NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA
Minggu, 21 April 2013
GUILTY
Delia
menatap berkali-kali pada cermin besar di depannya, ia mengagumi wanita dalam
cermin dengan dress mini berwarna ping yang tak lain adalah dirinya, setelah
memoleskan lipstik ping segar dan membubuhkan sedikit bedak pada pipi
mulusnya ia mulai meninggalkan kamar dengan senyum mengembang.
“Mamah..
Delia berangkat dulu yah??” pamit Delia sambil mencium tangan mamahnya yang
tengah menikmati acara televisi menjelang tahun baru 2013
“Mau
kemana, Sayang?? Kok pake baju seksi gituh??” mamahnya bertanya sambil
geleng-geleng kepala lantaran menyaksikan pakaian yang dikenakan anak gadis
satu-satunya itu.
“Delia
ijin jalan sama temen-temen yah, mah..? paling-paling jam 12 lebih dikit juga
Delia udah pulang kok, mah..” bujuk Delia manja
“Iya
udah, tapi hati-hati yah?? Kalau udah selesai liat kembang apinya langsung
pulang aja, jangan mampir-mampir lagi yah??”
“Siap,
mamah cantik..,” sahut Delia sambil berlari ke depan rumah, sementara Rian dengan
kemeja birunya yang di rangkap jaket hitam sudah siap menunggu di depan gerbang
bersama mobil jeepnya.
“Udah
siap, Sayang??” tanya Rian begitu Delia menghampiri dirinya, Delia hanya
mengangguk, Rian pun keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil satunya
untuk mempersilahkan Delia duduk di sampingnya, punggungnya membungkuk dan
tangan kanannya mengayun lembut ke arah pintu mobil yang telah terbuka, Delia
pun tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya itu.
“Malam
ini kamu terlihat sangat cantik, Sayang,” puji Rian begitu duduk di samping
Delia.
“Ciyus
nih??” sahut Delia genit.
“Ciyus
banget, Sayang.. milih gaunnya juga pas banget kok..” mendengar perkataan Rian,
senyum Delia semakin lebar, Rian senang melihat senyum menawan Delia, seiring
mobil merayap Rian pun mulai mengalunkan lagu-lagu romantis untuk Delia
“Temen-temen
udah nunggu kita belum yah, Say??” tanya Delia memulai pembicaraan
“Katanya
sih udah, Ay.. kita kan emang janji kumpul jam 10 malam, Ay..” jawab Rian,
masih dengan menatap jalan.
“Oh..
jadi kita yang telat yah, Say..”
“Iya,
tapi tenang aja, Tuan Putri.. Pangeranmu akan membawamu terbang..” dan benar
saja Rian langsung menambah kecepatan laju mobilnya padahal jalanan ramai,
Delia hanya bisa menatap tegang ke arah jalan.
%%%%%
Meski
malam ini bintang tak berkenan menghiasi langit namun malam ini tetap indah
karena gemerlap lampu kota tengah berkelap-kelip girang, percikan api
warna-warni membumbung tinggi seakan ia hendak menggantikan bintang menaburi
langit malam, Rian dan Delia menghambur ke tengah alun-alun kota semarang
sambil bergandengan tangan, mata Delia terus menatap ke atas menikmati
warna-warna indah yang mampu membuat matanya berbinar terang, sedang Rian
tampak mengedarkan pandangannya mencari kumpulan teman-temannya, namun kehadiran
pemuda-pemudi yang berjubel menciptakan gelombang-gelombang kecil di dahi Rian,
Rian merasa kesusahan menemukan teman-temannya.
“Ay,
gimana nih?? Mereka pada ngumpul dimana yah??” tanya Rian masih sambil
tengak-tengok ke kanan-kiri.
“Kalo
udah kaya gini susah nyari mereka, Say.. sms mereka aja.. maaf kalo kita gak
bisa gabung gituh..!,” Sahut Delia enteng.
“Oke
deh, Ay.. tapi gak papa nih kalo cuma berdua ama aku??” Rian mulai menggoda
Delia.
“Emang
ini yang sayang mau kan?? ayo ngaku..,” Delia menanggapi Rian dengan
mengerlingkan mata nakalnya, Rian pun merangkul pundak Delia, mereka mulai
melangkah bersama menembus kerumunan demi melihat penampilan artis-astis papan
atas dari jarak dekat, tiba-tiba saja kristal-kristal dingin jatuh bersamaan, Delia
menggigit bibirnya, ia merasa hawa dingin mulai merayap lembut ke lengan
mulusnya yang terbuka, melihat kejadian itu Rian segera membuka jaketnya dan
memakaikannya ke pundak Delia, Rian pun kembali merangkul Delia erat.
“Makasih,
Sayang..” ucap Delia tulus, Rian hanya tersenyum sambil mempererat
rengkuhannya, membuat Delia tenggelam semakin dalam. Sementara di atas panggung
sana suasana semakin panas hingga pemuda-pemudi yang membanjiri alun-alun
Semarang tak menghiraukan tetesan air hujan yang perlahan membaur bersama
pakaian-pakaian modis mereka.
Saat
jam hampir menunjukan pukul 00.00, percikan api warna-warni semakin ramai
menghiasi kepekatan malam, berbaur dengan kristal-kristal bening yang terus
terjun ke bumi tanpa sungkan, benar-benar paduan yang indah.. api yang
membumbung tinggi membuat kristal-kristal yang tengah terjun bebas pun ikut
berwarna-warni, mereka seperti melihat pelangi dalam cermin-cermin kecil,
hingga mereka terus menengadah ke atas dan rela wajahnya menjadi tempat
pelabuhan kristal-kristal dingin itu.
Ngiiiiiiiiiiiiiing...
Duaaar...
Nguiiiiiiiiiiiiing..
Duaaaaar...
Sepontan
semua mata mengekor ke arah bunyinya petasan yang tengah melambung tinggi dan
menjelma menjadi hurf warna-warni yang merangkaikan kata HAPPY NEW YEAR 2013.
“Sayang,
aku suka rangkaian huruf-hurufnya,” teriak Delia di tengah kebisingan letusan
petasan
“Inilah
tujuanku membawamu ke sini, Ay.. aku ingin kita menyaksikannya bersama,” jawab
Rian lantang sambil menatap lembut Delia yang masih berada dalam pelukannya,
namun tiba-tiba Delia ingat nasehat ibunya.
“Sayang,
aku harus pulang sekarang.., mamah tadi bilang setelah melihat kembang api
memasuki tahun 2013 ini aku tak boleh lama-lama di luar,” Delia kembali
berteriak pada Rian, Rian hanya mengangguk berat dan membawa Delia keluar dari
kerumunan.
“Tapi
aku gak bakalan bisa nyetir kalau ujannya gede gini, kamu sms mamah kamu dulu
yah, Ay..” teriak Rian saat sudah berhasil ke luar dari kerumunan, Delia pun
langsung mengambil HP dari dalam tasnya, sedetik kemudian jemarinya menari
lincah di atas tombol-tombol yang tengah bercahaya
“Udah,
Say.. aku bilang sama mamah aku nginep di rumah Ririn..” sahut Delia sambil
mengembalikan HP-nya ke tempat semula
“Siip..
sekarang kita cari penginapan dulu yuk, Ay.. lihat tuh kamu udah basah kuyup
gituh..,”
Delia
pun memandangi dirinya, ia melihat dress pingnya sudah benar-benar bercengkrama
dengan air hujan, hingga melekat ke kulit mulusnya, ia hampir tampak seperti
tidak mengenakan baju, untung saja Rian berkenan meminjamkan jaketnya hingga
tubuh bagian atasnya lumayan tertutup.
$$$$
Kini
Delia dan Rian berada dalam kamar yang sama, mereka duduk berdua di dekat
jendela, menatap kosong pada kristal-kristal kecil yang masih setia terjun
bebas ke bumi, Delia hanya memakai celana selutut dan kemeja Rian yang sengaja
Rian bawa, sedang Rian hanya mengenakan kaos tipis yang baru di belinya di
jalan, mereka benar-benar tak ada persiapan.. mereka mengira hujan tidak akan
turun sederas ini. Rian yang tadi sempat jadi hero untuk Delia, kini mulai
merasakan hawa dingin menjalari tubuhnya, Delia tak tega melihatnya hingga ia
menenggelamkan Rian dalam pelukan hangatnya.
“Maafin
aku, Say.. aku udah ngrampas jaket kamu, sampe badanmu menggigil gini..” bisik
Delia penuh sesal pada Rian yang masih terdiam dalam pelukannya
“Sssssstt..
jangan ngomong gituh, Ay..” Rian melepaskan pelukan Delia perlahan sambil
menempelkan jari telunjuknya ke bibir merah Delia, lalu mengangkat dagu Delia
dan mengecup lembut bibir Delia sambil menarik Delia ke dalam pelukannya.
Kini
hawa dingin mulai pergi menjauh, asmara yang tengah melanda Delia dan Rian
membawa mereka menikmati malam indah ini dengan perbuatan yang tak seharusnya
mereka lakukan, bisikkan setan mulai merajai mereka hingga Delia tak ingat lagi
akan kewajibannya sebagai gadis berpendidikan, ia tak lagi menghiraukan
kehormatan dirinya, Delia dan Rian menganggap ini bukti cinta mereka, yang
sebenarnya hati kecil mereka meronta saat mereka melakukannya.
%%%%
“Apa?? Kamu hamil?” teriak Rian tak percaya dengan apa
yang dikatakan Delia padanya di sudut kamar mandi sekolah.
Delia mengangguk sembari berulang kali menyeka air
matanya yang hendak meleleh. Sejak merengguk manisnya madu beberapa bulan lalu,
Delia merasa sangat menyesal terlebih lagi setelah Delia mengetahui dirinya
tengah mengandung buah hati dari benih cinta dininya
“Kamu harus gugurin sekarang juga, Ay..,” kata Rian
tegas sembari menatap lekat kedua bola mata gadis itu.
Delia tercekat. Mendung menggumpal pekat di pelupuk
matanya, dan kembali menjelma bulir-bulir bening. Namun ia segera menggeleng
tanda tidak setuju dengan perkataan Rian.
“Nggak, Sayang.. aku mau kamu tanggung jawab atas anak
ini, aku tak mau mengugurkannya, itu dosa besar...,” sahut Delia lemah dengan
suara paruh.
“Kalau kamu menikah sekarang, Bagaimana dengan
sekolahmu? Bagaimana dengan reputasimu? Dan bagaimana dengan reputasi
keluargamu?”
“Tapi... aku takut, Sayang...,” tangis Delia semakin
meledak. Rian pun memeluk Delia dengan lembut sembari mengusap-usap rambut
lurusnya itu.
“Jangan takut, sayang.. lakukan apa yang aku minta,
masa depanmu masih panjang, aku janji setelah lulus nanti aku bakal nikahin
kamu.”
Akhirnya Delia mengangguk pasrah. Rian melepaskan
pelukannya dan menyeka air mata gadis itu dengan lembut. Walau jauh dalam hati
Delia, ia sangat ingin meronta. Tapi apalah daya, bisikan setan lebih ia
dengarkan dari pada suara hati kecilnya.
%%%%
Setelah melakukan aborsi yang sangat menyiksa raga dan
juga jiwa Delia, Rian tak pernah muncul lagi. Rian seakan ditelan bumi. Rian
telah pergi meninggalkan luka yang amat dalam di hati Delia. Terakhir kali ia
melihat Rian ialah ketika Rian mengatakan ia pindah ke Bandung karena orang
tuanya dipindahtugaskan di kota dengan landmark
Paris Van Java itu. Sebelumnya Delia mengekang keras, namun apalah daya,
kekasihnya itu tetap bersikukuh dengan mengimimg-imingi janji akan segera
kembali dan menikahinya. Tapi, janji tinggallah janji, Rian tak pernah
menghubungi Delia lagi sampai saat ini. Bahkan sudah tiga bulan Delia
menunggunya tapi hasilnya nihil. Ya, Rian benar-benar pergi.
Hati Delia menjerit. Delia benar-benar tertekan. Kekasih
yang sangat ia cintai telah menghianati cintanya yang telah dipupuk dua tahun
silam. Delia merasa dirinya gadis paling tidak beruntung di dunia ini. Ia juga
merasa menjadi manusia yang tak berguna lagi. Bayangkan saja, siapa yang mau
dengan gadis yang sudah tak perawan? Batinnya benar-benar tersiksa walau hanya
dia, Rian, dan Tuhan lah yang tahu dosa besarnya itu.
“Delia, kamu kenapa, nak ?” tanya Mamah Delia
tiba-tiba di ambang pintu kamarnya sehingga membuyarkan lamunan Delia.
Delia yang sedang menangis itu spontan mengusap air
matanya yang sedari tadi meleleh. Delia pun hanya bisa menggeleng tanpa bisa
mengatakan apa-apa pada mamahnya itu.
“Kamu kenapa menangis, Sayang? Kamu ada masalah apa? Cerita
saja sama mamah,” sahut Mamah Delia sembari mendekati anak semata wayangnya
itu.
“Delia nggak punya masalah apa-apa kok, Mah.. Delia cuma
gak enak badan aja,” dusta Delia sembari memaksakan tersenyum. Sebenarnya Delia
sangat ingin memeluk Mamahnya itu, kemudian menangis di pelukannya dan
menceritakan semua kesedihan yang dialaminya. Tapi itu tak mungkin Delia
lakukan, ia tak punya cukup nyali untuk menceritakan kejadian paling mengerikan
dalam hidupnya itu.
“Kalo gitu biar mamah antar ke dokter yah, Sayang,”
kata Mamah dengan penuh khawatir.
“Nggak usah, Mah.. mungkin Delia hanya stres aja sama
tugas-tugas sekolah Delia, mamah nggak usah khawatir, mending Delia jalan-jalan
keluar aja buat refreshing,” sahut Delia lagi.
“Beneran? Yaudah kalo gitu, hati-hati ya, Sayang..,”
Delia pun hanya mengangguk dan beranjak dari tempat
tidurnya untuk keluar rumah. Perlahan-lahan air matanya meleleh lagi. Delia
benar-benar tak kuat dan ia berlari tak tahu arah. Sampai di suatu taman, Delia
terduduk lesu. Matanya menatap kosong. Pikirannya melayang-layang kemana-mana. Ah,
Delia benar-benar menyesal. ia hanya bisa berandai-andai. Andai saja ia dulu
tak melakukan hal itu, andai saja ia tak menuruti kata-kata Rian dahulu. Ah,
waktu sudah tak bisa diputar kembali. Delia hanya bisa menyesali perbuatannya
itu sekarang. Ya, setelah semuanya raib. Dan bayang-bayang akan aborsi itu
terus menghantuinya kemanapun ia pergi. Rasa sakit bekas aborsi itu juga
membuatnya tersiksa. Delia benar-benar tertekan lahir batin.
Pandangan Delia pun beralih ke kolam ikan yang di tengah-tengahnya
terdapat pancuran setinggi kurang lebih satu meter. Dilihatnya seorang wanita
paruh baya menggendong seorang bayi yang sedang merengek. Pikirannya melayang
kembali. Andai saja Delia tak mengugurkan kandungannya, mungkin anaknya itu
sudah seumuran dengan bayi itu. Delia kembali menyeka air matanya.
Hari semakin sore. Matahari hampir saja tenggelam. Burung-burung
dengan lihainya berterbangan di udara menuju sarangnya sembari bernyanyi. Bernyanyi
sendu. Sensendu hati Delia.
%%%%
Satu Jam Saja
Pohon
beringin berdiri kokoh mengitari alun-alun kota wonosobo, dedaunan yang telah
kering terseok-seok oleh angin nakal yang menggodanya, aku menengadah, sekedar
untuk mencari sedikit petunjuk cuaca hari ini, aku pun tersenyum simpul melihat
atap biru yang menghampar luas, inilah asyiknya tinggal di kota asri, deru
kendaraan tidak membuat kota bising dan pengap.
Aku
semakin asyik mengamati berbagai aktifitas yang tercipta secara natural, yang langsung
disutradarai oleh Dzat Maha Agung, benar-benar seperti menonton film yang
dibintangi oleh aktor dan aktris handal. Tanpa sengaja tatapanku terhenti pada
gadis mungil yang tengah mengayunkan kedua tangannya hingga saling bertabrakan
dan mampu menciptakan irama bak ketipung, begitu senada dengan suara kekanak-kanakannya.
Ia menghampiri beberapa gerombolan remaja yang tengah asyik bercengkrama, namun
tak ada satu pun yang berkenan memberikan uang padanya. Ia tertunduk lesu dan
duduk di bawah pohon beringin yang tak jauh dari tempatku mengamatinya. Aku
semakin tidak mengerti mengapa ia melakukan pekerjaan yang tak pantas untuknya, dia mengenakan
seragam TK bonafid di kota ini, tas punggung dan sepatu yang ia pakai pun
jelas-jelas barang import. Mataku semakin membola ketika sedan putih berhenti
tepat di depannya, pria setengah baya yang keluar dari sedan itu pun
menghampirinya tergesa-gesa.
“Maafkan
papah, Sayang.. Ema udah lama nunggu yah??” Ucap pria itu sambil membungkuk
sejajar dengan gadis yang dipanggil Ema tadi.
“Gak,
pah..,” sahut Ema lesu.
“Kalo
gituh ayo kita pulang!” Papah Ema langsung berdiri sambil menggandeng tangan
Ema. Namun tiba-tiba Ema menghentikan langkah kakinya. Papahnya menatap Ema tak
mengerti.
“Pah,
bisa gak kita duduk di sini sebentar..?” dari mata beningnya terlihat ia sangat
mengharapkan permintaannya diamini oleh papahnya.
“Baiklah,
Sayang.. tapi jangan lama-lama yah??” kali ini ucapan papahnya terdengar berat.
“Pah,
bolehkah Ema meminjam uang papah seratus ribu saja??” tanya Ema hati-hati. Mata
papahnya membola sempurna, dari guratan wajahnya, papah Ema tampak kesal, namun
ia mencoba tetap menyahut lembut.
“Ema
kan masih kecil, jadi jangan pegang uang dulu yah? Kalo mau beli-beli sesuatu
minta aja sama mamah..” papar pria itu dengan nada berat hingga mata gadis
mungil di depannya tampak berkaca-kaca, ia semakin menunduk dalam, bahunya
terguncang hebat.
“Kenapa
menangis?? Kita harus segera pulang, papah harus kembali ke kantor!” suara pria
itu semakin meninggi.
“Bo..bolehkah
Ema jujur??” sahut Ema lirih di sela-sela tangisnya.
“Boleh,
Sayang..” suara papahnya mulai lembut kembali, nampaknya ia tidak tega melihat
putrinya tergugu.
“Tadi
Ema sempat mengamen demi uang seratus ribu, tapi tak ada seorang pun yang mau
memberikan uang kepada Ema..”
“Memangnya
untuk apa??” suara papahnya kembali meninggi
“E.e.ema..
Ema ingin membeli waktu papah satu jam saja, Ema pengen kaya temen-temen Ema
bisa bermain skoter di sini bersama ayah mereka, tapi Ema tahu dari mamah satu
jam di kantor sangat berarti buat papah, karena per jamnya papah dibayar
seratus ribu, dan Ema ingin membeli waktu papah satu jam saja untuk menemani
Ema bermain, tapi sampe sekarang Ema belum punya uang, jadi Ema mau pinjem dulu
sama papah,” paparnya polos diiringi lelehan kristal bening di pipi merahnya.
Seketika papahnya merangkul pundak kecil Ema sambil mengecup kening putrinya,
embun bening hadir di sudut mata pria kekar itu, ia mulai menyadari betapa
bodoh dirinya yang begitu sibuk memikirkan kecukupan materi, tanpa ia tahu ternyata
putrinya sangat merasa miskin kasih sayang, mengamen demi menebus kasih sayang
yang memang sudah seharusnya ia dapatkan. Lama ia mendekap Ema, hingga air mata
keduanya mulai mengering.
“Ema
tak perlu meminjam uang, Sayang.. siang ini papah temenin Ema main sampe sore,
gimana??”
“Beneran,
pah??” sahut Ema antusias, gemericik hujan kembali hadir dari mata polosnya.
Tangan papahnya yang masih bergetar menghapus lembut air mata Ema.
“Jangan
nangis lagi, Sayang..! Senyum dong..!” pria itu berusaha menyajikan suasana
ceria dengan suara paraunya, meskipun begitu Ema tetap bisa tersenyum manis.
Mereka pun beranjak bersama sambil bergandengan tangan. ~The End~
Semua Tentang Chacha
“Ayo
berangkat, Cha..!” Santi mencoba mengingatkan Chacha sambil menyambar tas penuh
berbagai macam buku yang telah disiapkannya tadi malam, namun hingga Santi
berlalu meninggalkan Chacha sendirian pun, Chacha masih saja hanyut dalam imajinasinya,
sebuah novel berjudul Bukotachi no Unmei telah menyihirnya, membuat
Chacha lupa segalanya, teman-temannya pun tak ia hiraukan sama sekali, padahal
bukan cuma Santi yang sudah mengingatkan Chacha untuk sekolah, May dan Novi
telah melakukan hal yang sama dengan Santi, tapi ya begitulah Chacha, kalau
sudah berhdapan dengan Novel dia akan hidup dalam dunia yang ia ciptakan
sendiri, makan, mandi, sekolah dan teman-temannya sih lewaaat...
Setelah
teman-teman sekamarnya tak ada yang tersisa di ruangan yang Chacha tempati,
keadaan Chacha tambah kritis, dia mulai senyum-senyum sendiri dan tak lama lagi
dia menangis sesenggukan. Benar-benar memprihatinkan, hingga detik ia meletakan
buku di lemari pun pipinya masih saja
blepotan ingus dan air mata.
“Haaa???
Jam 9????” sederet kata yang sudah biasa Chacha ucapkan setiap pagi, kemudian secepat
kilat Chacha menyambar handuk dan meluncur ke kamar mandi.
*^*^*
“Chacha!
Berenti!!!” teriak Pak Satpam garang.
“Eh
bapak.., bikin kaget aja..,” sahut Chacha enteng tak memperdulikan muka Pak
Satpam yang memerah karena menahan amarah.
“Ini
jam berapa, hah?? Kamu ini sudah besar
masih aja gak ngerti jam, yang lain istirahat kamu malah baru datang..,”
“Maaf,
pak.. gak sengaja..”
“Gak
sengaja kok nyampe 40 kali?? Baca tulisan di gerbang tuh..! Masuk pukul 07.00,
paham??” kali ini kumis Pak Satpam turun setengah.
“Maaf,
pak.. kumisnya benerin dulu tuh..he,” sepontan Pak Satpam mengusap-usap
kumisnya yang hampir copot.
“Dasar
bandel! Kalau 60 hari kedepan kamu masih terlambat, Pak Kepsek tidak akan
segan-segan mengeluarkanmu,” Pak Satpam mulai salting gara-gara kumisnya yang
hampir copot.
“Siap,
Pak! Berarti masih ada 60 kesempatan lagi kan, Pak??” sahut Chacha lega.
“Ha??
Apa kamu bilang?? Sekarang ikut saya!!” Pak satpam pun menyeret Chacha secara
paksa. Dan Chacha hanya bisa pasrah.
*^*^*
Santi,
May dan Novi tampak melangkah gemulai bak tengah berjalan di atas catwalk,
sedang Chacha dari tengah lapangan memandang mereka geram, hingga kaca mata
Chacha yang kegedean turun ke hidung mancungnya, dan ternyata kali ini bibir
Chacha pun tak kalah mancung dengan hidung kebanggaannya.
“May,
Nov.. coba kalian liat ke lapangan! Itu Chacha, kan??” Kini Santi mulai
menyadari keadaan kritis sahabat satunya itu.
“Iya,
lu bener, San.. itu Chacha, gua hafal betul kibaran kerudungnya,” jawab May
asal, setelah saling melirik penuh arti, ketiga gadis itu pun berlari ke tengah
lapangan dan menyerbu sahabatnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
“Lu
ngapain ngangkat kaki sebelah sambil narik-narik telinga lu gituh??” Santi
selalu menjadi orang yang pertama bersuara.
“Iya,
kenapa lu saingan ama tiang bendera, Cha?” May mulai ikut menyerbu.
“Kibaran
kerudung lu udah mau nyaingin bendera merah putih noh.. tapi masih kurang warna
merahnya, gue tambahin yah, Cha?” Novi pun tak mau kalah.
“Udah
nanyanya?? Pergi sono!!!” Bentak Chacha sewot.
“Idiiiiiiih
marah nih yeeeee??” sepontan ketiga sahabat Chacha menciptakan paduan suara
yang sama sekali tak terdengar merdu, namun tak berapa lama mereka berlari ke kantin
kerena menyadari kepala Chacha sudah hampir keluar tanduk. Namun Chacha hanya
menghela nafas panjang sambil terus menatap jam yang melilit erat di
pergelangan tangannya. Satu menit, lima menit, 10 menit dan... teeeeeet, waktu
istirahat berakhir , inilah waktu yang amat Chacha nantikan. Ia pun mulai
berlari ke kamar mandi dan mengambil air wudhu’ dengan harapan ia dapat
mengikuti pelajaran dengan baik.
Begitu
sampai di kelas Chacha mendapati ketiga sahabatnya sudah duduk rapi, Santi
tampak tengah asyik memainkan rambut panjangnya, sedang May dan Novi tengah
ketawa-ketiwi tak jelas.
“San,
lu seneng banget punya rambut panjang yah?” tanya Chacha polos, sambil
mengambil posisi duduk manis di dekat Santi.
“Ya
gituh, Cha.. Emang lu gak gerah yah pake jilbab siang bolong begini??” Santi
balik bertanya.
“Gue
lebih takut panasnya api neraka, San.. soalnya kata Ummii kalo gak mau pake
kerudung tuh kelak kita akan dibakar
oleh api neraka yang panasnya berlipat-lipat dari api di dunia, San..,” Chacha
mulai berkhotbah ria.
“Gue
juga takut sih.. tapi gue pake kerudungnya kalo sikap gue udah bener aja ah.”
“San,
kata Ummii.. Al insanu makhalul khotho’ wa nisan.. “
“Nisan???
Emang kuburan??? Nisyan kaliii,” potong Santi sepontan hingga membuat
Chacha menganga dalam beberapa detik.
“Nah..
tuh lu tahu dalilnya, pastinya lu udah tahu kan kalo manusia tuh tempatnya
salah dan lupa, jadi.. kita harus mau berusaha biar terus lebih baik, makanya mari kita sama-sama menata dhohir
kita, kemudian kita beranjak menata bathin kita, gimana??” lanjut Chacha
hati-hati.
“Bentar
dulu deh, Cha.. gue pake kerudungnya kalo udah jadian ama Heru, dia kan cowok cool
yang gak suka sama cewe-cewe cupu kayak lu, hehehe maaf, Cha.. keceplosan..”
Santi mengangkat dua jarinya tanda meminta perdamaian, Chacha hanya bisa
geleng-geleng kepala.
“Lu
tuh kebanyakan syarat tahu.. ngakunya islam 100% tapi pake kerudung aja nunggu
kalo gini, dan kalo gituh, tapi tak apa lah, yang penting gue udah ngingetin
lu,” sahut Chacha pasrah, ia sudah sering mengingatkan Santi, Novi dan May,
tapi jawaban mereka semua hampir sama, menunggu beberapa syarat terpenuhi.
*^*^*
Pagi
ini Chacha bersiap-siap lebih awal dari sahabat-sahabatnya, namun setelah
menyadari sahabatnya masih asyik-asyikan memainkan berbagai alat musik penuh
keseriusan, Chacha mulai merasa heran. Dan tanpa rasa sungkan Chacha pun
melayangkan beberapa pertanyaan.
“Kalian
kok belum siap-siap?? Mau pada nyobain berdiri samping tiang bendera kaya gue
kemaren yah??”
“Pliiss
deh, Cha.. sekarang tuh HUT yang ke 45 buat sekolah kita tercinta, lu gak liat
apa?? Kita-kita kan dari kemaren sibuk nyiapin diri buat ikutan pensi entar
siang,” Lagi-lagi santi yang bersuara lebih awal, dan kali ini kedua sahabatnya
yang lain hanya mengannguk setuju.
“Oh..
begono.. Ya udah gue berangkat duluan yah?? Bye..”
“Lu
mau kemana, Cha??” teriak Santi lantang hingga menghentikan langkah Chacha.
“Gue
mau nengok matahari, San.. kasian tuh.. tiap hari muncul cepat-cepat tapi gue
yang ditungguin malah ngumpet terus di kamar,” Sahut Chacha enteng sambil
keluar kamar, dan kini giliran ketiga sahabatnya yang geleng-geleng kepala.
*^*^*
Chacha
memperhatikan beberapa teman sekolahnya yang tengah sibuk mempersiapkan acara
peringatan hari jadi sekolahnya, namun ingatan Chacha masih mengembara pada
sosok ayah yang tak pernah ia ketahui bagaimana wajahnya, dan seperti apa
senyumnya, Chacha nampak sedikit mendung setiap usai ziarah ke makam ayahnya,
sebenarnya Chacha ingin sesekali berkata pada teman-temannya kata Abii, bla bla
bla, namun apalah daya, Ayahnya telah pulang ke sisi-Nya saat Chacha masih
dalam kandungan ibunya, inilah sebabnya Chacha tinggal di asrama padahal ia
asli penduduk daerah sini, ya begitulah.. ibunya harus mencari penghidupan di
kota metropolitan untuk membiayai sekolah dan keperluan hidupnya.
“Cha..
pagi-pagi kok cemberut?? Pak mentari gak mau nrima maaf lu yah??” suara Santi
mengagetkan Chacha.
“Hehehe,”
Chacha hanya nyengir kerbau, ups! Maaf, emang kerbau bisa nyengir yah?? But..
whatever lah.. ^_^
“San,
kok kayanya cuma gue yang pake seragam sekolah lengkap yah?” lanjut Chacha
sambil tengok ke kanan-kiri.
“Waktu
upaca bendera hari senin kemaren kan Pak Kepsek udah ngumumin husus hari ini
kita diijinin pake baju bebas.”
“Chacha
mana tau, San.. dia kan kemaren gak ikut upacara,” tanpa persetujuan Chacha
novi yang menyahut ucapan Santi.
“Udah
lah.. gak perlu ngibutin pakean, liat tuh lapangan udah penuh, kita gak
kebagian duduk deket panggung,” May mulai angkat bicara, dan seperti mendapat
komando dari atasan, mereka pun langsung berbaur dengan teman-teman lainnya.
*^*^*
Kini
Chacha sudah kembali menjadi gadis yang ceria, dia begitu terhibur dengan
penampilan teman-temannya dan kini giliran sahabat-sahabatnya yang mendapat
jatah menampilkan kebolehannya, Santi, May dan Novi mulai cipika-cipiki dengan
Chacha begitu mengetahui giliran mereka akan datang. Dengan dress panjang yang
sama mereka melangkah ke atas panggung penuh percaya diri, namun setelah berda
di atas panggung mereka tak juga menunjukan
kreatifitas mereka. Dan sepontan para penonton berteriak “Huuuuuuuuuu,”
ada pula yang berteriak “Turun! Turun!”, melihat kejadian seperti itu Chacha
langsung melempar kaca matanya yang kegedean dan berlari menuju panggung,
menerobos kerumunan. Semua mata terpana melihat wajah cantik Chacha yang selama
ini tertutup kaca mata cupunya, dan dengan gesit Chacha membenarkan kabel-kabel
yang menghambat jalannya acara.
“Jreng!”
satu petikan gitar dari santi menandakan usaha Chacha berhasil.
“Wah..
lu hebat, Cha,’” puji Santi tulus.
“Chacha..
Chacha.. Chacha..” penonton mulai meneriakkan nama Chacha penuh semangat.
“Lu
gak boleh turun, Cha.. Lu harus bertanggung jawab dan gabung sama kita-kita,”
lanjut Santi, Chacha hanya mengangguk dan berdiri di belakang keyboard sesuai
permintaan sahabat-sahabatnya. Mereka membuka penampilan dengan membawakan lagu
milik Cakra, dan kemudian Separuh aku miliknya Noah, dan saat membawakan
lagunya Noah Chacha tukar posisi dengan May, dan ternyata permainan drum Chacha
sangat keren, sahabat-sahabatnya tak pernah tahu dari mana Chacha bisa
memainkan seluruh alat musik dengan baik tapi mereka mengakui permainan Chacha
memang lebih menarik.
“Ini
lagu terakhir dari kami,” suara Chacha menggema dan mampu menghipnotis
penonton.
“Dan
kali ini saya akan menggantikan posisi Novi sebagai pemegang melody sekaligus
sebagai vokalis, saya harap kalian mengijinkan, karena saya ingin
mempersembahkan lagu ini untuk ayah saya yang telah berada di sisi Allah SWT,”
Chacha mengucapkan sederet kalimat itu dengan kepala menunduk, hadirin menatap
serius dan mengangguk penuh makna.
Untuk
Ayah tercinta
Aku
ingin bernyanyi
Walau
air mata di pipiku
Ayah
dengarkanlah
Aku
ingin berjumpa
Walau
hanya dalam mimpiku
Rinai
air mata membasahi pipi Chacha yang mulai merah menahan perih, banyak penonton
yang juga ikut menitikkan air mata, dan pula yang hanya mengusap garang sudut
matanya, suasana berubah menjadi haru biru.
*^*^*
“Anak-anakku
yang bapak cintai.. bapak sangat bangga pada kalian semua yang punya kretifitas
unik dan menarik, jadi.. kali ini bapak tidak akan mengingatkan kalian akan
kesadaran untuk menuntut ilmu, menggali bakat dan lain-lain,” Pujian tulus dari
Pak Kepala sekolah di akhir acara dapat
melukiskan garis simpul menawan pada setiap siswa yang hadir.
“Namun
kali ini bapak akan meminta Elsa Khoirunnisa untuk menyampaikan rahasianya,
mengapa ia bisa selalu mendapat juara tapi juga tak pernah jera mendapatkan
sanksi lantaran ia sering terlambat dan tertidur di kelas, kepada Ananda Elsa
Khoirunnisa bapak persilahkan,” lagi-lagi para siswa bingung mereka
mencari-cari sosok yang disebutkan oleh Pak kepsek, dan ternyata hanya Chacha
yang tengah berdiri dan siap kembali melangkah ke atas panggung.
“Assalamu’alaikum
wa rahmatullahi wa barokaatuh,” salam hangat Chacha kembali menggema, dan
dijawab serempak oleh semua yang hadir.
“Terimaksih
untuk Pak Kepsek, dan salam santun, serta salam hormat saya haturkan untuk
guru-guruku dan teman-temanku yang saya cintai, langsung saja.. mungkin tadi
kalian sempat bingung karena selama ini kalian hanya mengenal saya sebagai
Chacha yang suka terlambat dan ngantuk di kelas, tanpa kalian tahu saya
memiliki sisi lain di mata guru-guru sebagai Elsa Khoirunnisa yang selalu
mendapat nilai tertinggi hingga semester kemaren,” papar Chacha panjang lebar.
“Selain
saya suka terlambat dan ngantuk di kelas, saya punya kebiasaan buruk lain yaitu
imsomnia, itulah yang membuat saya belajar serius saat kalian tertidur
pulas, namun usai sholat subuh, saya
akan membaca novel untuk merefresh otak saya, makanya teman-teman sekamar saya
pun tak pernah mendapati saya tengah membaca buku pelajaran, tapi dengan
penuturan saya kali ini, saya menaruh harapan besar pada kalian agar bisa
memaknai sebuah perjuangan, iya.. tak ada kesuksesan yang tidak ditebus dengan
perjuangan dan pengorbanan, tapi jika kalian ingin berjuang, saya pun punya
harapan, semoga kalian tidak mengikuti caraku yang kurang benar.. dan satu
lagi.. mengenai kemampuan saya dalam memainkan alat musik itu merupakan bakat
yang diturunkan oleh almarhum Abii, jadi dari kecil saya memang sudah menyatu
dengan musik dan kebetulan SD dan SMP tempatku dulu belajar memiliki eskul
musik yang amat lengkap namun semenjak saya tinggal di asrama saya mulai jarang
berlatih dan mulai menyukai karya sastra, hingga kali ini saya berharap kelak
saya pun bisa menjadi bagian dari penulis-penulis hebat yang tercatat dalam
sejarah sastra Indonesia,” Chacha memberi jeda
“Dan
terakhir.. saya ingin menekankan pada kalian semua, bahwa jilbab bukanlah
menjadi penghalang untuk berekspresi, jilbab berfungsi sebagai hijab untuk
mencegah kita dari perbuatan-perbuatan dzolim, dan pesanku untuk kalian
hususnya sahabat-sahabat perempuan saya, jadilah muslimah kuat dan hebat!!, terimakasih telah berkenan memperhatikan,
sukses selalu untuk kita semua,” kalimat terakhir Chacha disambut oleh tatapan
takjub dan tak berapa lama gemuruh tepuk tangan mulai membahana.
Sedangkan
di balik panggung, Chacha menunduk dalam dan bergeming pilu
”Ini
untuk Abii dan Ummii, Chacha sayang Abii dan Umii,” tanpa
terasa kristal bening melompat nakal dan membasahi pipi Chacha.
Langganan:
Postingan (Atom)