Aku
selalu berangkat kuliah paling awal sejak semester satu, dan alasanku untuk
tetap seperti ini adalah Rehan, karna Rehan selalu jadi orang kedua yang datang
di kelas setelah aku, ya.. kami berdua punya kebiasaan yang sama, menikmati hostpot
kampus sebelum dosen pengampu datang, dan saat itulah aku akan menyuarakan
gejolak hatiku dengan mengirimkan puisi-puisi singkat padanya, dialah makhluk
yang selalu terlihat sempurna di mataku, yang sudah sejak lama kunantikan
sambutan rasa darinya, tapi aku sadar, aku tak mungkin bisa menjamah cintanya
karna dia tampak tak peduli padaku, padahal aku selalu sekelas dengannya sejak
enam tahun lalu, tapi yang kudapat darinya hanya sekedar ucapan “Pagi,
Echa..” Tapi aku tak mungkin menyalahkannya, karena selama ini aku pun tak
pernah berani menyapanya, aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis kala
ia berkenan menyapaku.
“Pagi,
Echa..,” sapa Rehan saat memasuki kelas, seperti biasa aku hanya mengangguk dan
tersenyum tipis, namun jemariku langsung menari lincah di atas keyboard
Aku
bahagia
pagi
ini binar matamu telah mampu menggantikan mentari
yang tengah redup tertutup gumpalan pekat
Tepat saat kuklik send,
Rehan telah menyalakan obrolan, dan dia membalas dengan cepat
Trims
J
May
I know who you are??
“Pagi,
Echa.. Rehan..,” sapa Ririn begitu masuk kelas dan bergegas duduk di samping
Rehan.
“Pagi
juga..,” sahut Rehan singkat
“Lu
ngapain sih, Re?? Sebelum kuliah selalu mlototin NB.. emangnya gak cape??”
berondong Ririn, sambil melirik penuh arti padaku.
“Lu
nanya kok pake jamaah gitu sih?? Satu-satu dong..!” Protes Rehan tak trima
“Oya,
Rin.. Coba lu liat ini,” lanjut Rehan antusias sambil memamerkan layar notebooknya
pada Ririn, Ririn pun dengan senang hati memperhatikan apa yang ditunjukan Rehan.
“Lu
tahu gak ini akun siapa?? Gue penasaran banget nih, dia selalu ngirimin gue
kata-kata yang bikin hati gue nyaman, tapi dia gak pernah mau bales pesan
gue..,” nada bicara Rehan terdengar serius, Ririn beringsut mundur dari layar notebook
Rehan, sedang aku tengah menyaksikan nyali dan rasaku yang berkacamuk, rasaku
menuntutku untuk berteriak pada Rehan, “Itu gue, Re..,” tapi nyaliku
mencegahnya.
“Masa
lu gak tahu, Re? Itu gue.., gue yang tiap pagi nyapa lu di dunia maya, dan
deketin lu di dunia nyata, gue udah berusaha nunjukin kalo gue suka sama lu,
gue pengen lu duluan yang nembak gue, tapi ternyata lu gak peka, lu masih tetap
datar-datar aja dan terpaksa kali ini gue jujur ama lu, gue gak peduli dengan
mereka yang menganggap hal ini tabu, tapi gue beneran cinta lu, Re.., gue
sayang eluuu..,” suara Ririn serak, sepertinya ia menahan tangis tapi aku lebih
tercekat, hatiku merintih pilu, kucengkram erat kaca bening dengan kelopak
mataku, aku tak mau kaca ini meleleh di pipiku, aku tak mengerti kenapa Ririn bersandiwara,
dan memaksaku berjuang keras membendung gerimis yang tengah bergemericik di
hatiku, hingga aku tak lagi mendengar apa yang dibicarakan Ririn dan Rehan.
*^*^*^*
Begitu
jam kuliah berakhir, Ririn berlari menutup pintu kelas dari dalam dan berteriak
lantang.
“Temen-temen..
jangan pulang dulu yah?? Gue mau traktir kalian di Resto depan, buat ngrayain
hari jadi gue ama Rehan.”
Sepontan
kelas menjadi gaduh sebagian berteriak “Horeeeeeeeeeee,” dan sebagian menggoda
Ririn dan Rehan, hanya aku yang masih duduk kaku dan menunduk pilu, kali ini
aku tak lagi mampu menahan rinai air mataku, aku semakin menunduk dalam,
berharap tak ada yang menyadari keadaanku, satu persatu teman sekelasku
berhamburan keluar, tak ada yang menyadariku tertinggal di kelas dengan bingkis
kekecewaan. Jemariku mulai menari lincah di atas keyboard notebook yang belum kumatikan
Inilah
cintaku.. Meski sakit....
Dengan
segenap keindahan cinta yang kumiliki
Aku
akan mencoba tersenyum dan berkata
“I’m
happy for you”
*^*^*^*
“Echa...
tungguin gue..,” teriakannya menyesakkan dadaku, namun aku berusaha tegar dan
berbalik menghadapnya.
“Kenapa
akhir-akhir ini lu gak ke kampus??”
“Lagi
males, Re.. gue duluan yah?” aku segera bergegas meninggalkan Rehan.
“Gue
sayang lu, Cha..,” kali ini teriakkan Rehan benar-benar membuat jantungku
berhenti untuk sepersekian detik, tak berapa lama aku merasa ada tangan kekar
yang meraihku dalam pelukannya.
“Maafin
gue, Cha.. gue emang bodoh, udah percaya ama Ririn gituh aja, tapi... puisi lu
yang terakhir bikin gue sadar, akun itu milik lu, sekarang gue gak mungkin
salah lagi karna waktu gue ngrayain hari jadi gue ama Ririn cuma lu yang gak
dateng, dan gue tahu, lu satu-satunya orang yang tersakiti saat itu.”
Selesai
Nama
: Wina Hasanah
Email
: hasanah.wina@yahoo.com
TTL : Brebes, 11
September 1992
Alamat : Dusun Sarimulyo kelurahan Kalibeber,
kecamatan Mojotengah, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah,
Akun FB : Diajeng
Albarbasy Menggapaihimmah
Nomor HP : 085729765088
081902212424
Tidak ada komentar:
Posting Komentar