Minggu, 21 April 2013

Rasaku Tak Mungkin Keliru



Aku selalu berangkat kuliah paling awal sejak semester satu, dan alasanku untuk tetap seperti ini adalah Rehan, karna Rehan selalu jadi orang kedua yang datang di kelas setelah aku, ya.. kami berdua punya kebiasaan yang sama, menikmati hostpot kampus sebelum dosen pengampu datang, dan saat itulah aku akan menyuarakan gejolak hatiku dengan mengirimkan puisi-puisi singkat padanya, dialah makhluk yang selalu terlihat sempurna di mataku, yang sudah sejak lama kunantikan sambutan rasa darinya, tapi aku sadar, aku tak mungkin bisa menjamah cintanya karna dia tampak tak peduli padaku, padahal aku selalu sekelas dengannya sejak enam tahun lalu, tapi yang kudapat darinya hanya sekedar ucapan “Pagi, Echa..” Tapi aku tak mungkin menyalahkannya, karena selama ini aku pun tak pernah berani menyapanya, aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis kala ia berkenan menyapaku.
“Pagi, Echa..,” sapa Rehan saat memasuki kelas, seperti biasa aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis, namun jemariku langsung menari lincah di atas keyboard
Aku bahagia
pagi ini binar matamu telah mampu menggantikan mentari
 yang tengah redup tertutup gumpalan pekat
Tepat saat kuklik send, Rehan telah menyalakan obrolan, dan dia membalas dengan cepat
Trims J
May I know who you are??
“Pagi, Echa.. Rehan..,” sapa Ririn begitu masuk kelas dan bergegas duduk di samping Rehan.
“Pagi juga..,” sahut Rehan singkat
“Lu ngapain sih, Re?? Sebelum kuliah selalu mlototin NB.. emangnya gak cape??” berondong Ririn, sambil melirik penuh arti padaku.
“Lu nanya kok pake jamaah gitu sih?? Satu-satu dong..!” Protes Rehan tak trima
“Oya, Rin.. Coba lu liat ini,” lanjut Rehan antusias sambil memamerkan layar notebooknya pada Ririn, Ririn pun dengan senang hati memperhatikan apa yang ditunjukan Rehan.
“Lu tahu gak ini akun siapa?? Gue penasaran banget nih, dia selalu ngirimin gue kata-kata yang bikin hati gue nyaman, tapi dia gak pernah mau bales pesan gue..,” nada bicara Rehan terdengar serius, Ririn beringsut mundur dari layar notebook Rehan, sedang aku tengah menyaksikan nyali dan rasaku yang berkacamuk, rasaku menuntutku untuk berteriak pada Rehan, “Itu gue, Re..,” tapi nyaliku mencegahnya.
“Masa lu gak tahu, Re? Itu gue.., gue yang tiap pagi nyapa lu di dunia maya, dan deketin lu di dunia nyata, gue udah berusaha nunjukin kalo gue suka sama lu, gue pengen lu duluan yang nembak gue, tapi ternyata lu gak peka, lu masih tetap datar-datar aja dan terpaksa kali ini gue jujur ama lu, gue gak peduli dengan mereka yang menganggap hal ini tabu, tapi gue beneran cinta lu, Re.., gue sayang eluuu..,” suara Ririn serak, sepertinya ia menahan tangis tapi aku lebih tercekat, hatiku merintih pilu, kucengkram erat kaca bening dengan kelopak mataku, aku tak mau kaca ini meleleh di pipiku, aku tak mengerti kenapa Ririn bersandiwara, dan memaksaku berjuang keras membendung gerimis yang tengah bergemericik di hatiku, hingga aku tak lagi mendengar apa yang dibicarakan Ririn dan Rehan.
*^*^*^*
Begitu jam kuliah berakhir, Ririn berlari menutup pintu kelas dari dalam dan berteriak lantang.
“Temen-temen.. jangan pulang dulu yah?? Gue mau traktir kalian di Resto depan, buat ngrayain hari jadi gue ama Rehan.”
Sepontan kelas menjadi gaduh sebagian berteriak “Horeeeeeeeeeee,” dan sebagian menggoda Ririn dan Rehan, hanya aku yang masih duduk kaku dan menunduk pilu, kali ini aku tak lagi mampu menahan rinai air mataku, aku semakin menunduk dalam, berharap tak ada yang menyadari keadaanku, satu persatu teman sekelasku berhamburan keluar, tak ada yang menyadariku tertinggal di kelas dengan bingkis kekecewaan. Jemariku mulai menari lincah di atas  keyboard notebook yang belum kumatikan
Inilah cintaku.. Meski sakit....
Dengan segenap keindahan cinta yang kumiliki
Aku akan mencoba tersenyum dan berkata
“I’m happy for you”
*^*^*^*
“Echa... tungguin gue..,” teriakannya menyesakkan dadaku, namun aku berusaha tegar dan berbalik menghadapnya.
“Kenapa akhir-akhir ini lu gak ke kampus??”
“Lagi males, Re.. gue duluan yah?” aku segera bergegas meninggalkan Rehan.
“Gue sayang lu, Cha..,” kali ini teriakkan Rehan benar-benar membuat jantungku berhenti untuk sepersekian detik, tak berapa lama aku merasa ada tangan kekar yang meraihku dalam pelukannya.
“Maafin gue, Cha.. gue emang bodoh, udah percaya ama Ririn gituh aja, tapi... puisi lu yang terakhir bikin gue sadar, akun itu milik lu, sekarang gue gak mungkin salah lagi karna waktu gue ngrayain hari jadi gue ama Ririn cuma lu yang gak dateng, dan gue tahu, lu satu-satunya orang yang tersakiti saat itu.”
 Selesai
Nama : Wina Hasanah
TTL : Brebes, 11 September 1992
Alamat : Dusun Sarimulyo kelurahan Kalibeber, kecamatan Mojotengah, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah,
Akun FB : Diajeng Albarbasy Menggapaihimmah
Nomor HP : 085729765088
                     081902212424

Tidak ada komentar:

Posting Komentar