Delia
menatap berkali-kali pada cermin besar di depannya, ia mengagumi wanita dalam
cermin dengan dress mini berwarna ping yang tak lain adalah dirinya, setelah
memoleskan lipstik ping segar dan membubuhkan sedikit bedak pada pipi
mulusnya ia mulai meninggalkan kamar dengan senyum mengembang.
“Mamah..
Delia berangkat dulu yah??” pamit Delia sambil mencium tangan mamahnya yang
tengah menikmati acara televisi menjelang tahun baru 2013
“Mau
kemana, Sayang?? Kok pake baju seksi gituh??” mamahnya bertanya sambil
geleng-geleng kepala lantaran menyaksikan pakaian yang dikenakan anak gadis
satu-satunya itu.
“Delia
ijin jalan sama temen-temen yah, mah..? paling-paling jam 12 lebih dikit juga
Delia udah pulang kok, mah..” bujuk Delia manja
“Iya
udah, tapi hati-hati yah?? Kalau udah selesai liat kembang apinya langsung
pulang aja, jangan mampir-mampir lagi yah??”
“Siap,
mamah cantik..,” sahut Delia sambil berlari ke depan rumah, sementara Rian dengan
kemeja birunya yang di rangkap jaket hitam sudah siap menunggu di depan gerbang
bersama mobil jeepnya.
“Udah
siap, Sayang??” tanya Rian begitu Delia menghampiri dirinya, Delia hanya
mengangguk, Rian pun keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil satunya
untuk mempersilahkan Delia duduk di sampingnya, punggungnya membungkuk dan
tangan kanannya mengayun lembut ke arah pintu mobil yang telah terbuka, Delia
pun tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya itu.
“Malam
ini kamu terlihat sangat cantik, Sayang,” puji Rian begitu duduk di samping
Delia.
“Ciyus
nih??” sahut Delia genit.
“Ciyus
banget, Sayang.. milih gaunnya juga pas banget kok..” mendengar perkataan Rian,
senyum Delia semakin lebar, Rian senang melihat senyum menawan Delia, seiring
mobil merayap Rian pun mulai mengalunkan lagu-lagu romantis untuk Delia
“Temen-temen
udah nunggu kita belum yah, Say??” tanya Delia memulai pembicaraan
“Katanya
sih udah, Ay.. kita kan emang janji kumpul jam 10 malam, Ay..” jawab Rian,
masih dengan menatap jalan.
“Oh..
jadi kita yang telat yah, Say..”
“Iya,
tapi tenang aja, Tuan Putri.. Pangeranmu akan membawamu terbang..” dan benar
saja Rian langsung menambah kecepatan laju mobilnya padahal jalanan ramai,
Delia hanya bisa menatap tegang ke arah jalan.
%%%%%
Meski
malam ini bintang tak berkenan menghiasi langit namun malam ini tetap indah
karena gemerlap lampu kota tengah berkelap-kelip girang, percikan api
warna-warni membumbung tinggi seakan ia hendak menggantikan bintang menaburi
langit malam, Rian dan Delia menghambur ke tengah alun-alun kota semarang
sambil bergandengan tangan, mata Delia terus menatap ke atas menikmati
warna-warna indah yang mampu membuat matanya berbinar terang, sedang Rian
tampak mengedarkan pandangannya mencari kumpulan teman-temannya, namun kehadiran
pemuda-pemudi yang berjubel menciptakan gelombang-gelombang kecil di dahi Rian,
Rian merasa kesusahan menemukan teman-temannya.
“Ay,
gimana nih?? Mereka pada ngumpul dimana yah??” tanya Rian masih sambil
tengak-tengok ke kanan-kiri.
“Kalo
udah kaya gini susah nyari mereka, Say.. sms mereka aja.. maaf kalo kita gak
bisa gabung gituh..!,” Sahut Delia enteng.
“Oke
deh, Ay.. tapi gak papa nih kalo cuma berdua ama aku??” Rian mulai menggoda
Delia.
“Emang
ini yang sayang mau kan?? ayo ngaku..,” Delia menanggapi Rian dengan
mengerlingkan mata nakalnya, Rian pun merangkul pundak Delia, mereka mulai
melangkah bersama menembus kerumunan demi melihat penampilan artis-astis papan
atas dari jarak dekat, tiba-tiba saja kristal-kristal dingin jatuh bersamaan, Delia
menggigit bibirnya, ia merasa hawa dingin mulai merayap lembut ke lengan
mulusnya yang terbuka, melihat kejadian itu Rian segera membuka jaketnya dan
memakaikannya ke pundak Delia, Rian pun kembali merangkul Delia erat.
“Makasih,
Sayang..” ucap Delia tulus, Rian hanya tersenyum sambil mempererat
rengkuhannya, membuat Delia tenggelam semakin dalam. Sementara di atas panggung
sana suasana semakin panas hingga pemuda-pemudi yang membanjiri alun-alun
Semarang tak menghiraukan tetesan air hujan yang perlahan membaur bersama
pakaian-pakaian modis mereka.
Saat
jam hampir menunjukan pukul 00.00, percikan api warna-warni semakin ramai
menghiasi kepekatan malam, berbaur dengan kristal-kristal bening yang terus
terjun ke bumi tanpa sungkan, benar-benar paduan yang indah.. api yang
membumbung tinggi membuat kristal-kristal yang tengah terjun bebas pun ikut
berwarna-warni, mereka seperti melihat pelangi dalam cermin-cermin kecil,
hingga mereka terus menengadah ke atas dan rela wajahnya menjadi tempat
pelabuhan kristal-kristal dingin itu.
Ngiiiiiiiiiiiiiing...
Duaaar...
Nguiiiiiiiiiiiiing..
Duaaaaar...
Sepontan
semua mata mengekor ke arah bunyinya petasan yang tengah melambung tinggi dan
menjelma menjadi hurf warna-warni yang merangkaikan kata HAPPY NEW YEAR 2013.
“Sayang,
aku suka rangkaian huruf-hurufnya,” teriak Delia di tengah kebisingan letusan
petasan
“Inilah
tujuanku membawamu ke sini, Ay.. aku ingin kita menyaksikannya bersama,” jawab
Rian lantang sambil menatap lembut Delia yang masih berada dalam pelukannya,
namun tiba-tiba Delia ingat nasehat ibunya.
“Sayang,
aku harus pulang sekarang.., mamah tadi bilang setelah melihat kembang api
memasuki tahun 2013 ini aku tak boleh lama-lama di luar,” Delia kembali
berteriak pada Rian, Rian hanya mengangguk berat dan membawa Delia keluar dari
kerumunan.
“Tapi
aku gak bakalan bisa nyetir kalau ujannya gede gini, kamu sms mamah kamu dulu
yah, Ay..” teriak Rian saat sudah berhasil ke luar dari kerumunan, Delia pun
langsung mengambil HP dari dalam tasnya, sedetik kemudian jemarinya menari
lincah di atas tombol-tombol yang tengah bercahaya
“Udah,
Say.. aku bilang sama mamah aku nginep di rumah Ririn..” sahut Delia sambil
mengembalikan HP-nya ke tempat semula
“Siip..
sekarang kita cari penginapan dulu yuk, Ay.. lihat tuh kamu udah basah kuyup
gituh..,”
Delia
pun memandangi dirinya, ia melihat dress pingnya sudah benar-benar bercengkrama
dengan air hujan, hingga melekat ke kulit mulusnya, ia hampir tampak seperti
tidak mengenakan baju, untung saja Rian berkenan meminjamkan jaketnya hingga
tubuh bagian atasnya lumayan tertutup.
$$$$
Kini
Delia dan Rian berada dalam kamar yang sama, mereka duduk berdua di dekat
jendela, menatap kosong pada kristal-kristal kecil yang masih setia terjun
bebas ke bumi, Delia hanya memakai celana selutut dan kemeja Rian yang sengaja
Rian bawa, sedang Rian hanya mengenakan kaos tipis yang baru di belinya di
jalan, mereka benar-benar tak ada persiapan.. mereka mengira hujan tidak akan
turun sederas ini. Rian yang tadi sempat jadi hero untuk Delia, kini mulai
merasakan hawa dingin menjalari tubuhnya, Delia tak tega melihatnya hingga ia
menenggelamkan Rian dalam pelukan hangatnya.
“Maafin
aku, Say.. aku udah ngrampas jaket kamu, sampe badanmu menggigil gini..” bisik
Delia penuh sesal pada Rian yang masih terdiam dalam pelukannya
“Sssssstt..
jangan ngomong gituh, Ay..” Rian melepaskan pelukan Delia perlahan sambil
menempelkan jari telunjuknya ke bibir merah Delia, lalu mengangkat dagu Delia
dan mengecup lembut bibir Delia sambil menarik Delia ke dalam pelukannya.
Kini
hawa dingin mulai pergi menjauh, asmara yang tengah melanda Delia dan Rian
membawa mereka menikmati malam indah ini dengan perbuatan yang tak seharusnya
mereka lakukan, bisikkan setan mulai merajai mereka hingga Delia tak ingat lagi
akan kewajibannya sebagai gadis berpendidikan, ia tak lagi menghiraukan
kehormatan dirinya, Delia dan Rian menganggap ini bukti cinta mereka, yang
sebenarnya hati kecil mereka meronta saat mereka melakukannya.
%%%%
“Apa?? Kamu hamil?” teriak Rian tak percaya dengan apa
yang dikatakan Delia padanya di sudut kamar mandi sekolah.
Delia mengangguk sembari berulang kali menyeka air
matanya yang hendak meleleh. Sejak merengguk manisnya madu beberapa bulan lalu,
Delia merasa sangat menyesal terlebih lagi setelah Delia mengetahui dirinya
tengah mengandung buah hati dari benih cinta dininya
“Kamu harus gugurin sekarang juga, Ay..,” kata Rian
tegas sembari menatap lekat kedua bola mata gadis itu.
Delia tercekat. Mendung menggumpal pekat di pelupuk
matanya, dan kembali menjelma bulir-bulir bening. Namun ia segera menggeleng
tanda tidak setuju dengan perkataan Rian.
“Nggak, Sayang.. aku mau kamu tanggung jawab atas anak
ini, aku tak mau mengugurkannya, itu dosa besar...,” sahut Delia lemah dengan
suara paruh.
“Kalau kamu menikah sekarang, Bagaimana dengan
sekolahmu? Bagaimana dengan reputasimu? Dan bagaimana dengan reputasi
keluargamu?”
“Tapi... aku takut, Sayang...,” tangis Delia semakin
meledak. Rian pun memeluk Delia dengan lembut sembari mengusap-usap rambut
lurusnya itu.
“Jangan takut, sayang.. lakukan apa yang aku minta,
masa depanmu masih panjang, aku janji setelah lulus nanti aku bakal nikahin
kamu.”
Akhirnya Delia mengangguk pasrah. Rian melepaskan
pelukannya dan menyeka air mata gadis itu dengan lembut. Walau jauh dalam hati
Delia, ia sangat ingin meronta. Tapi apalah daya, bisikan setan lebih ia
dengarkan dari pada suara hati kecilnya.
%%%%
Setelah melakukan aborsi yang sangat menyiksa raga dan
juga jiwa Delia, Rian tak pernah muncul lagi. Rian seakan ditelan bumi. Rian
telah pergi meninggalkan luka yang amat dalam di hati Delia. Terakhir kali ia
melihat Rian ialah ketika Rian mengatakan ia pindah ke Bandung karena orang
tuanya dipindahtugaskan di kota dengan landmark
Paris Van Java itu. Sebelumnya Delia mengekang keras, namun apalah daya,
kekasihnya itu tetap bersikukuh dengan mengimimg-imingi janji akan segera
kembali dan menikahinya. Tapi, janji tinggallah janji, Rian tak pernah
menghubungi Delia lagi sampai saat ini. Bahkan sudah tiga bulan Delia
menunggunya tapi hasilnya nihil. Ya, Rian benar-benar pergi.
Hati Delia menjerit. Delia benar-benar tertekan. Kekasih
yang sangat ia cintai telah menghianati cintanya yang telah dipupuk dua tahun
silam. Delia merasa dirinya gadis paling tidak beruntung di dunia ini. Ia juga
merasa menjadi manusia yang tak berguna lagi. Bayangkan saja, siapa yang mau
dengan gadis yang sudah tak perawan? Batinnya benar-benar tersiksa walau hanya
dia, Rian, dan Tuhan lah yang tahu dosa besarnya itu.
“Delia, kamu kenapa, nak ?” tanya Mamah Delia
tiba-tiba di ambang pintu kamarnya sehingga membuyarkan lamunan Delia.
Delia yang sedang menangis itu spontan mengusap air
matanya yang sedari tadi meleleh. Delia pun hanya bisa menggeleng tanpa bisa
mengatakan apa-apa pada mamahnya itu.
“Kamu kenapa menangis, Sayang? Kamu ada masalah apa? Cerita
saja sama mamah,” sahut Mamah Delia sembari mendekati anak semata wayangnya
itu.
“Delia nggak punya masalah apa-apa kok, Mah.. Delia cuma
gak enak badan aja,” dusta Delia sembari memaksakan tersenyum. Sebenarnya Delia
sangat ingin memeluk Mamahnya itu, kemudian menangis di pelukannya dan
menceritakan semua kesedihan yang dialaminya. Tapi itu tak mungkin Delia
lakukan, ia tak punya cukup nyali untuk menceritakan kejadian paling mengerikan
dalam hidupnya itu.
“Kalo gitu biar mamah antar ke dokter yah, Sayang,”
kata Mamah dengan penuh khawatir.
“Nggak usah, Mah.. mungkin Delia hanya stres aja sama
tugas-tugas sekolah Delia, mamah nggak usah khawatir, mending Delia jalan-jalan
keluar aja buat refreshing,” sahut Delia lagi.
“Beneran? Yaudah kalo gitu, hati-hati ya, Sayang..,”
Delia pun hanya mengangguk dan beranjak dari tempat
tidurnya untuk keluar rumah. Perlahan-lahan air matanya meleleh lagi. Delia
benar-benar tak kuat dan ia berlari tak tahu arah. Sampai di suatu taman, Delia
terduduk lesu. Matanya menatap kosong. Pikirannya melayang-layang kemana-mana. Ah,
Delia benar-benar menyesal. ia hanya bisa berandai-andai. Andai saja ia dulu
tak melakukan hal itu, andai saja ia tak menuruti kata-kata Rian dahulu. Ah,
waktu sudah tak bisa diputar kembali. Delia hanya bisa menyesali perbuatannya
itu sekarang. Ya, setelah semuanya raib. Dan bayang-bayang akan aborsi itu
terus menghantuinya kemanapun ia pergi. Rasa sakit bekas aborsi itu juga
membuatnya tersiksa. Delia benar-benar tertekan lahir batin.
Pandangan Delia pun beralih ke kolam ikan yang di tengah-tengahnya
terdapat pancuran setinggi kurang lebih satu meter. Dilihatnya seorang wanita
paruh baya menggendong seorang bayi yang sedang merengek. Pikirannya melayang
kembali. Andai saja Delia tak mengugurkan kandungannya, mungkin anaknya itu
sudah seumuran dengan bayi itu. Delia kembali menyeka air matanya.
Hari semakin sore. Matahari hampir saja tenggelam. Burung-burung
dengan lihainya berterbangan di udara menuju sarangnya sembari bernyanyi. Bernyanyi
sendu. Sensendu hati Delia.
%%%%
Tidak ada komentar:
Posting Komentar