Minggu, 21 April 2013

GUILTY



Delia menatap berkali-kali pada cermin besar di depannya, ia mengagumi wanita dalam cermin dengan dress mini berwarna ping yang tak lain adalah dirinya, setelah memoleskan lipstik ping segar dan membubuhkan sedikit bedak pada pipi mulusnya ia mulai meninggalkan kamar dengan senyum mengembang.
“Mamah.. Delia berangkat dulu yah??” pamit Delia sambil mencium tangan mamahnya yang tengah menikmati acara televisi menjelang tahun baru 2013
“Mau kemana, Sayang?? Kok pake baju seksi gituh??” mamahnya bertanya sambil geleng-geleng kepala lantaran menyaksikan pakaian yang dikenakan anak gadis satu-satunya itu.
“Delia ijin jalan sama temen-temen yah, mah..? paling-paling jam 12 lebih dikit juga Delia udah pulang kok, mah..” bujuk Delia manja
“Iya udah, tapi hati-hati yah?? Kalau udah selesai liat kembang apinya langsung pulang aja, jangan mampir-mampir lagi yah??”
“Siap, mamah cantik..,” sahut Delia sambil berlari ke depan rumah, sementara Rian dengan kemeja birunya yang di rangkap jaket hitam sudah siap menunggu di depan gerbang bersama mobil jeepnya.
“Udah siap, Sayang??” tanya Rian begitu Delia menghampiri dirinya, Delia hanya mengangguk, Rian pun keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil satunya untuk mempersilahkan Delia duduk di sampingnya, punggungnya membungkuk dan tangan kanannya mengayun lembut ke arah pintu mobil yang telah terbuka, Delia pun tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya itu.
“Malam ini kamu terlihat sangat cantik, Sayang,” puji Rian begitu duduk di samping Delia.
“Ciyus nih??” sahut Delia genit.
“Ciyus banget, Sayang.. milih gaunnya juga pas banget kok..” mendengar perkataan Rian, senyum Delia semakin lebar, Rian senang melihat senyum menawan Delia, seiring mobil merayap Rian pun mulai mengalunkan lagu-lagu romantis untuk Delia
“Temen-temen udah nunggu kita belum yah, Say??” tanya Delia memulai pembicaraan
“Katanya sih udah, Ay.. kita kan emang janji kumpul jam 10 malam, Ay..” jawab Rian, masih dengan menatap jalan.
“Oh.. jadi kita yang telat yah, Say..”
“Iya, tapi tenang aja, Tuan Putri.. Pangeranmu akan membawamu terbang..” dan benar saja Rian langsung menambah kecepatan laju mobilnya padahal jalanan ramai, Delia hanya bisa menatap tegang ke arah jalan.
%%%%%
Meski malam ini bintang tak berkenan menghiasi langit namun malam ini tetap indah karena gemerlap lampu kota tengah berkelap-kelip girang, percikan api warna-warni membumbung tinggi seakan ia hendak menggantikan bintang menaburi langit malam, Rian dan Delia menghambur ke tengah alun-alun kota semarang sambil bergandengan tangan, mata Delia terus menatap ke atas menikmati warna-warna indah yang mampu membuat matanya berbinar terang, sedang Rian tampak mengedarkan pandangannya mencari kumpulan teman-temannya, namun kehadiran pemuda-pemudi yang berjubel menciptakan gelombang-gelombang kecil di dahi Rian, Rian merasa kesusahan menemukan teman-temannya.
“Ay, gimana nih?? Mereka pada ngumpul dimana yah??” tanya Rian masih sambil tengak-tengok ke kanan-kiri.
“Kalo udah kaya gini susah nyari mereka, Say.. sms mereka aja.. maaf kalo kita gak bisa gabung gituh..!,” Sahut Delia enteng.
“Oke deh, Ay.. tapi gak papa nih kalo cuma berdua ama aku??” Rian mulai menggoda Delia.
“Emang ini yang sayang mau kan?? ayo ngaku..,” Delia menanggapi Rian dengan mengerlingkan mata nakalnya, Rian pun merangkul pundak Delia, mereka mulai melangkah bersama menembus kerumunan demi melihat penampilan artis-astis papan atas dari jarak dekat, tiba-tiba saja kristal-kristal dingin jatuh bersamaan, Delia menggigit bibirnya, ia merasa hawa dingin mulai merayap lembut ke lengan mulusnya yang terbuka, melihat kejadian itu Rian segera membuka jaketnya dan memakaikannya ke pundak Delia, Rian pun kembali merangkul Delia erat.
“Makasih, Sayang..” ucap Delia tulus, Rian hanya tersenyum sambil mempererat rengkuhannya, membuat Delia tenggelam semakin dalam. Sementara di atas panggung sana suasana semakin panas hingga pemuda-pemudi yang membanjiri alun-alun Semarang tak menghiraukan tetesan air hujan yang perlahan membaur bersama pakaian-pakaian modis mereka.
Saat jam hampir menunjukan pukul 00.00, percikan api warna-warni semakin ramai menghiasi kepekatan malam, berbaur dengan kristal-kristal bening yang terus terjun ke bumi tanpa sungkan, benar-benar paduan yang indah.. api yang membumbung tinggi membuat kristal-kristal yang tengah terjun bebas pun ikut berwarna-warni, mereka seperti melihat pelangi dalam cermin-cermin kecil, hingga mereka terus menengadah ke atas dan rela wajahnya menjadi tempat pelabuhan kristal-kristal dingin itu.
Ngiiiiiiiiiiiiiing... Duaaar...
Nguiiiiiiiiiiiiing.. Duaaaaar...
Sepontan semua mata mengekor ke arah bunyinya petasan yang tengah melambung tinggi dan menjelma menjadi hurf warna-warni yang merangkaikan kata HAPPY NEW YEAR 2013.
“Sayang, aku suka rangkaian huruf-hurufnya,” teriak Delia di tengah kebisingan letusan petasan
“Inilah tujuanku membawamu ke sini, Ay.. aku ingin kita menyaksikannya bersama,” jawab Rian lantang sambil menatap lembut Delia yang masih berada dalam pelukannya, namun tiba-tiba Delia ingat nasehat ibunya.
“Sayang, aku harus pulang sekarang.., mamah tadi bilang setelah melihat kembang api memasuki tahun 2013 ini aku tak boleh lama-lama di luar,” Delia kembali berteriak pada Rian, Rian hanya mengangguk berat dan membawa Delia keluar dari kerumunan.
“Tapi aku gak bakalan bisa nyetir kalau ujannya gede gini, kamu sms mamah kamu dulu yah, Ay..” teriak Rian saat sudah berhasil ke luar dari kerumunan, Delia pun langsung mengambil HP dari dalam tasnya, sedetik kemudian jemarinya menari lincah di atas tombol-tombol yang tengah bercahaya
“Udah, Say.. aku bilang sama mamah aku nginep di rumah Ririn..” sahut Delia sambil mengembalikan HP-nya ke tempat semula
“Siip.. sekarang kita cari penginapan dulu yuk, Ay.. lihat tuh kamu udah basah kuyup gituh..,”
Delia pun memandangi dirinya, ia melihat dress pingnya sudah benar-benar bercengkrama dengan air hujan, hingga melekat ke kulit mulusnya, ia hampir tampak seperti tidak mengenakan baju, untung saja Rian berkenan meminjamkan jaketnya hingga tubuh bagian atasnya lumayan tertutup.
$$$$
Kini Delia dan Rian berada dalam kamar yang sama, mereka duduk berdua di dekat jendela, menatap kosong pada kristal-kristal kecil yang masih setia terjun bebas ke bumi, Delia hanya memakai celana selutut dan kemeja Rian yang sengaja Rian bawa, sedang Rian hanya mengenakan kaos tipis yang baru di belinya di jalan, mereka benar-benar tak ada persiapan.. mereka mengira hujan tidak akan turun sederas ini. Rian yang tadi sempat jadi hero untuk Delia, kini mulai merasakan hawa dingin menjalari tubuhnya, Delia tak tega melihatnya hingga ia menenggelamkan Rian dalam pelukan hangatnya.
“Maafin aku, Say.. aku udah ngrampas jaket kamu, sampe badanmu menggigil gini..” bisik Delia penuh sesal pada Rian yang masih terdiam dalam pelukannya
“Sssssstt.. jangan ngomong gituh, Ay..” Rian melepaskan pelukan Delia perlahan sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir merah Delia, lalu mengangkat dagu Delia dan mengecup lembut bibir Delia sambil menarik Delia ke dalam pelukannya.
Kini hawa dingin mulai pergi menjauh, asmara yang tengah melanda Delia dan Rian membawa mereka menikmati malam indah ini dengan perbuatan yang tak seharusnya mereka lakukan, bisikkan setan mulai merajai mereka hingga Delia tak ingat lagi akan kewajibannya sebagai gadis berpendidikan, ia tak lagi menghiraukan kehormatan dirinya, Delia dan Rian menganggap ini bukti cinta mereka, yang sebenarnya hati kecil mereka meronta saat mereka melakukannya.
            %%%%
“Apa?? Kamu hamil?” teriak Rian tak percaya dengan apa yang dikatakan Delia padanya di sudut kamar mandi sekolah.
Delia mengangguk sembari berulang kali menyeka air matanya yang hendak meleleh. Sejak merengguk manisnya madu beberapa bulan lalu, Delia merasa sangat menyesal terlebih lagi setelah Delia mengetahui dirinya tengah mengandung buah hati dari benih cinta dininya
“Kamu harus gugurin sekarang juga, Ay..,” kata Rian tegas sembari menatap lekat kedua bola mata gadis itu.
Delia tercekat. Mendung menggumpal pekat di pelupuk matanya, dan kembali menjelma bulir-bulir bening. Namun ia segera menggeleng tanda tidak setuju dengan perkataan Rian.
“Nggak, Sayang.. aku mau kamu tanggung jawab atas anak ini, aku tak mau mengugurkannya, itu dosa besar...,” sahut Delia lemah dengan suara paruh.
“Kalau kamu menikah sekarang, Bagaimana dengan sekolahmu? Bagaimana dengan reputasimu? Dan bagaimana dengan reputasi keluargamu?”
“Tapi... aku takut, Sayang...,” tangis Delia semakin meledak. Rian pun memeluk Delia dengan lembut sembari mengusap-usap rambut lurusnya itu.
“Jangan takut, sayang.. lakukan apa yang aku minta, masa depanmu masih panjang, aku janji setelah lulus nanti aku bakal nikahin kamu.”
Akhirnya Delia mengangguk pasrah. Rian melepaskan pelukannya dan menyeka air mata gadis itu dengan lembut. Walau jauh dalam hati Delia, ia sangat ingin meronta. Tapi apalah daya, bisikan setan lebih ia dengarkan dari pada suara hati kecilnya.
%%%%
Setelah melakukan aborsi yang sangat menyiksa raga dan juga jiwa Delia, Rian tak pernah muncul lagi. Rian seakan ditelan bumi. Rian telah pergi meninggalkan luka yang amat dalam di hati Delia. Terakhir kali ia melihat Rian ialah ketika Rian mengatakan ia pindah ke Bandung karena orang tuanya dipindahtugaskan di kota dengan landmark  Paris Van Java itu. Sebelumnya Delia mengekang keras, namun apalah daya, kekasihnya itu tetap bersikukuh dengan mengimimg-imingi janji akan segera kembali dan menikahinya. Tapi, janji tinggallah janji, Rian tak pernah menghubungi Delia lagi sampai saat ini. Bahkan sudah tiga bulan Delia menunggunya tapi hasilnya nihil. Ya, Rian benar-benar pergi.
Hati Delia menjerit. Delia benar-benar tertekan. Kekasih yang sangat ia cintai telah menghianati cintanya yang telah dipupuk dua tahun silam. Delia merasa dirinya gadis paling tidak beruntung di dunia ini. Ia juga merasa menjadi manusia yang tak berguna lagi. Bayangkan saja, siapa yang mau dengan gadis yang sudah tak perawan? Batinnya benar-benar tersiksa walau hanya dia, Rian, dan Tuhan lah yang tahu dosa besarnya itu.
“Delia, kamu kenapa, nak ?” tanya Mamah Delia tiba-tiba di ambang pintu kamarnya sehingga membuyarkan lamunan Delia.
Delia yang sedang menangis itu spontan mengusap air matanya yang sedari tadi meleleh. Delia pun hanya bisa menggeleng tanpa bisa mengatakan apa-apa pada mamahnya itu.
“Kamu kenapa menangis, Sayang? Kamu ada masalah apa? Cerita saja sama mamah,” sahut Mamah Delia sembari mendekati anak semata wayangnya itu.
“Delia nggak punya masalah apa-apa kok, Mah.. Delia cuma gak enak badan aja,” dusta Delia sembari memaksakan tersenyum. Sebenarnya Delia sangat ingin memeluk Mamahnya itu, kemudian menangis di pelukannya dan menceritakan semua kesedihan yang dialaminya. Tapi itu tak mungkin Delia lakukan, ia tak punya cukup nyali untuk menceritakan kejadian paling mengerikan dalam hidupnya itu.
“Kalo gitu biar mamah antar ke dokter yah, Sayang,” kata Mamah dengan penuh khawatir.
“Nggak usah, Mah.. mungkin Delia hanya stres aja sama tugas-tugas sekolah Delia, mamah nggak usah khawatir, mending Delia jalan-jalan keluar aja buat refreshing,” sahut Delia lagi.
“Beneran? Yaudah kalo gitu, hati-hati ya, Sayang..,”
Delia pun hanya mengangguk dan beranjak dari tempat tidurnya untuk keluar rumah. Perlahan-lahan air matanya meleleh lagi. Delia benar-benar tak kuat dan ia berlari tak tahu arah. Sampai di suatu taman, Delia terduduk lesu. Matanya menatap kosong. Pikirannya melayang-layang kemana-mana. Ah, Delia benar-benar menyesal. ia hanya bisa berandai-andai. Andai saja ia dulu tak melakukan hal itu, andai saja ia tak menuruti kata-kata Rian dahulu. Ah, waktu sudah tak bisa diputar kembali. Delia hanya bisa menyesali perbuatannya itu sekarang. Ya, setelah semuanya raib. Dan bayang-bayang akan aborsi itu terus menghantuinya kemanapun ia pergi. Rasa sakit bekas aborsi itu juga membuatnya tersiksa. Delia benar-benar tertekan lahir batin.
Pandangan Delia pun beralih ke kolam ikan yang di tengah-tengahnya terdapat pancuran setinggi kurang lebih satu meter. Dilihatnya seorang wanita paruh baya menggendong seorang bayi yang sedang merengek. Pikirannya melayang kembali. Andai saja Delia tak mengugurkan kandungannya, mungkin anaknya itu sudah seumuran dengan bayi itu. Delia kembali menyeka air matanya.
Hari semakin sore. Matahari hampir saja tenggelam. Burung-burung dengan lihainya berterbangan di udara menuju sarangnya sembari bernyanyi. Bernyanyi sendu. Sensendu hati Delia.
%%%%

Tidak ada komentar:

Posting Komentar