“Ayo
berangkat, Cha..!” Santi mencoba mengingatkan Chacha sambil menyambar tas penuh
berbagai macam buku yang telah disiapkannya tadi malam, namun hingga Santi
berlalu meninggalkan Chacha sendirian pun, Chacha masih saja hanyut dalam imajinasinya,
sebuah novel berjudul Bukotachi no Unmei telah menyihirnya, membuat
Chacha lupa segalanya, teman-temannya pun tak ia hiraukan sama sekali, padahal
bukan cuma Santi yang sudah mengingatkan Chacha untuk sekolah, May dan Novi
telah melakukan hal yang sama dengan Santi, tapi ya begitulah Chacha, kalau
sudah berhdapan dengan Novel dia akan hidup dalam dunia yang ia ciptakan
sendiri, makan, mandi, sekolah dan teman-temannya sih lewaaat...
Setelah
teman-teman sekamarnya tak ada yang tersisa di ruangan yang Chacha tempati,
keadaan Chacha tambah kritis, dia mulai senyum-senyum sendiri dan tak lama lagi
dia menangis sesenggukan. Benar-benar memprihatinkan, hingga detik ia meletakan
buku di lemari pun pipinya masih saja
blepotan ingus dan air mata.
“Haaa???
Jam 9????” sederet kata yang sudah biasa Chacha ucapkan setiap pagi, kemudian secepat
kilat Chacha menyambar handuk dan meluncur ke kamar mandi.
*^*^*
“Chacha!
Berenti!!!” teriak Pak Satpam garang.
“Eh
bapak.., bikin kaget aja..,” sahut Chacha enteng tak memperdulikan muka Pak
Satpam yang memerah karena menahan amarah.
“Ini
jam berapa, hah?? Kamu ini sudah besar
masih aja gak ngerti jam, yang lain istirahat kamu malah baru datang..,”
“Maaf,
pak.. gak sengaja..”
“Gak
sengaja kok nyampe 40 kali?? Baca tulisan di gerbang tuh..! Masuk pukul 07.00,
paham??” kali ini kumis Pak Satpam turun setengah.
“Maaf,
pak.. kumisnya benerin dulu tuh..he,” sepontan Pak Satpam mengusap-usap
kumisnya yang hampir copot.
“Dasar
bandel! Kalau 60 hari kedepan kamu masih terlambat, Pak Kepsek tidak akan
segan-segan mengeluarkanmu,” Pak Satpam mulai salting gara-gara kumisnya yang
hampir copot.
“Siap,
Pak! Berarti masih ada 60 kesempatan lagi kan, Pak??” sahut Chacha lega.
“Ha??
Apa kamu bilang?? Sekarang ikut saya!!” Pak satpam pun menyeret Chacha secara
paksa. Dan Chacha hanya bisa pasrah.
*^*^*
Santi,
May dan Novi tampak melangkah gemulai bak tengah berjalan di atas catwalk,
sedang Chacha dari tengah lapangan memandang mereka geram, hingga kaca mata
Chacha yang kegedean turun ke hidung mancungnya, dan ternyata kali ini bibir
Chacha pun tak kalah mancung dengan hidung kebanggaannya.
“May,
Nov.. coba kalian liat ke lapangan! Itu Chacha, kan??” Kini Santi mulai
menyadari keadaan kritis sahabat satunya itu.
“Iya,
lu bener, San.. itu Chacha, gua hafal betul kibaran kerudungnya,” jawab May
asal, setelah saling melirik penuh arti, ketiga gadis itu pun berlari ke tengah
lapangan dan menyerbu sahabatnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
“Lu
ngapain ngangkat kaki sebelah sambil narik-narik telinga lu gituh??” Santi
selalu menjadi orang yang pertama bersuara.
“Iya,
kenapa lu saingan ama tiang bendera, Cha?” May mulai ikut menyerbu.
“Kibaran
kerudung lu udah mau nyaingin bendera merah putih noh.. tapi masih kurang warna
merahnya, gue tambahin yah, Cha?” Novi pun tak mau kalah.
“Udah
nanyanya?? Pergi sono!!!” Bentak Chacha sewot.
“Idiiiiiiih
marah nih yeeeee??” sepontan ketiga sahabat Chacha menciptakan paduan suara
yang sama sekali tak terdengar merdu, namun tak berapa lama mereka berlari ke kantin
kerena menyadari kepala Chacha sudah hampir keluar tanduk. Namun Chacha hanya
menghela nafas panjang sambil terus menatap jam yang melilit erat di
pergelangan tangannya. Satu menit, lima menit, 10 menit dan... teeeeeet, waktu
istirahat berakhir , inilah waktu yang amat Chacha nantikan. Ia pun mulai
berlari ke kamar mandi dan mengambil air wudhu’ dengan harapan ia dapat
mengikuti pelajaran dengan baik.
Begitu
sampai di kelas Chacha mendapati ketiga sahabatnya sudah duduk rapi, Santi
tampak tengah asyik memainkan rambut panjangnya, sedang May dan Novi tengah
ketawa-ketiwi tak jelas.
“San,
lu seneng banget punya rambut panjang yah?” tanya Chacha polos, sambil
mengambil posisi duduk manis di dekat Santi.
“Ya
gituh, Cha.. Emang lu gak gerah yah pake jilbab siang bolong begini??” Santi
balik bertanya.
“Gue
lebih takut panasnya api neraka, San.. soalnya kata Ummii kalo gak mau pake
kerudung tuh kelak kita akan dibakar
oleh api neraka yang panasnya berlipat-lipat dari api di dunia, San..,” Chacha
mulai berkhotbah ria.
“Gue
juga takut sih.. tapi gue pake kerudungnya kalo sikap gue udah bener aja ah.”
“San,
kata Ummii.. Al insanu makhalul khotho’ wa nisan.. “
“Nisan???
Emang kuburan??? Nisyan kaliii,” potong Santi sepontan hingga membuat
Chacha menganga dalam beberapa detik.
“Nah..
tuh lu tahu dalilnya, pastinya lu udah tahu kan kalo manusia tuh tempatnya
salah dan lupa, jadi.. kita harus mau berusaha biar terus lebih baik, makanya mari kita sama-sama menata dhohir
kita, kemudian kita beranjak menata bathin kita, gimana??” lanjut Chacha
hati-hati.
“Bentar
dulu deh, Cha.. gue pake kerudungnya kalo udah jadian ama Heru, dia kan cowok cool
yang gak suka sama cewe-cewe cupu kayak lu, hehehe maaf, Cha.. keceplosan..”
Santi mengangkat dua jarinya tanda meminta perdamaian, Chacha hanya bisa
geleng-geleng kepala.
“Lu
tuh kebanyakan syarat tahu.. ngakunya islam 100% tapi pake kerudung aja nunggu
kalo gini, dan kalo gituh, tapi tak apa lah, yang penting gue udah ngingetin
lu,” sahut Chacha pasrah, ia sudah sering mengingatkan Santi, Novi dan May,
tapi jawaban mereka semua hampir sama, menunggu beberapa syarat terpenuhi.
*^*^*
Pagi
ini Chacha bersiap-siap lebih awal dari sahabat-sahabatnya, namun setelah
menyadari sahabatnya masih asyik-asyikan memainkan berbagai alat musik penuh
keseriusan, Chacha mulai merasa heran. Dan tanpa rasa sungkan Chacha pun
melayangkan beberapa pertanyaan.
“Kalian
kok belum siap-siap?? Mau pada nyobain berdiri samping tiang bendera kaya gue
kemaren yah??”
“Pliiss
deh, Cha.. sekarang tuh HUT yang ke 45 buat sekolah kita tercinta, lu gak liat
apa?? Kita-kita kan dari kemaren sibuk nyiapin diri buat ikutan pensi entar
siang,” Lagi-lagi santi yang bersuara lebih awal, dan kali ini kedua sahabatnya
yang lain hanya mengannguk setuju.
“Oh..
begono.. Ya udah gue berangkat duluan yah?? Bye..”
“Lu
mau kemana, Cha??” teriak Santi lantang hingga menghentikan langkah Chacha.
“Gue
mau nengok matahari, San.. kasian tuh.. tiap hari muncul cepat-cepat tapi gue
yang ditungguin malah ngumpet terus di kamar,” Sahut Chacha enteng sambil
keluar kamar, dan kini giliran ketiga sahabatnya yang geleng-geleng kepala.
*^*^*
Chacha
memperhatikan beberapa teman sekolahnya yang tengah sibuk mempersiapkan acara
peringatan hari jadi sekolahnya, namun ingatan Chacha masih mengembara pada
sosok ayah yang tak pernah ia ketahui bagaimana wajahnya, dan seperti apa
senyumnya, Chacha nampak sedikit mendung setiap usai ziarah ke makam ayahnya,
sebenarnya Chacha ingin sesekali berkata pada teman-temannya kata Abii, bla bla
bla, namun apalah daya, Ayahnya telah pulang ke sisi-Nya saat Chacha masih
dalam kandungan ibunya, inilah sebabnya Chacha tinggal di asrama padahal ia
asli penduduk daerah sini, ya begitulah.. ibunya harus mencari penghidupan di
kota metropolitan untuk membiayai sekolah dan keperluan hidupnya.
“Cha..
pagi-pagi kok cemberut?? Pak mentari gak mau nrima maaf lu yah??” suara Santi
mengagetkan Chacha.
“Hehehe,”
Chacha hanya nyengir kerbau, ups! Maaf, emang kerbau bisa nyengir yah?? But..
whatever lah.. ^_^
“San,
kok kayanya cuma gue yang pake seragam sekolah lengkap yah?” lanjut Chacha
sambil tengok ke kanan-kiri.
“Waktu
upaca bendera hari senin kemaren kan Pak Kepsek udah ngumumin husus hari ini
kita diijinin pake baju bebas.”
“Chacha
mana tau, San.. dia kan kemaren gak ikut upacara,” tanpa persetujuan Chacha
novi yang menyahut ucapan Santi.
“Udah
lah.. gak perlu ngibutin pakean, liat tuh lapangan udah penuh, kita gak
kebagian duduk deket panggung,” May mulai angkat bicara, dan seperti mendapat
komando dari atasan, mereka pun langsung berbaur dengan teman-teman lainnya.
*^*^*
Kini
Chacha sudah kembali menjadi gadis yang ceria, dia begitu terhibur dengan
penampilan teman-temannya dan kini giliran sahabat-sahabatnya yang mendapat
jatah menampilkan kebolehannya, Santi, May dan Novi mulai cipika-cipiki dengan
Chacha begitu mengetahui giliran mereka akan datang. Dengan dress panjang yang
sama mereka melangkah ke atas panggung penuh percaya diri, namun setelah berda
di atas panggung mereka tak juga menunjukan
kreatifitas mereka. Dan sepontan para penonton berteriak “Huuuuuuuuuu,”
ada pula yang berteriak “Turun! Turun!”, melihat kejadian seperti itu Chacha
langsung melempar kaca matanya yang kegedean dan berlari menuju panggung,
menerobos kerumunan. Semua mata terpana melihat wajah cantik Chacha yang selama
ini tertutup kaca mata cupunya, dan dengan gesit Chacha membenarkan kabel-kabel
yang menghambat jalannya acara.
“Jreng!”
satu petikan gitar dari santi menandakan usaha Chacha berhasil.
“Wah..
lu hebat, Cha,’” puji Santi tulus.
“Chacha..
Chacha.. Chacha..” penonton mulai meneriakkan nama Chacha penuh semangat.
“Lu
gak boleh turun, Cha.. Lu harus bertanggung jawab dan gabung sama kita-kita,”
lanjut Santi, Chacha hanya mengangguk dan berdiri di belakang keyboard sesuai
permintaan sahabat-sahabatnya. Mereka membuka penampilan dengan membawakan lagu
milik Cakra, dan kemudian Separuh aku miliknya Noah, dan saat membawakan
lagunya Noah Chacha tukar posisi dengan May, dan ternyata permainan drum Chacha
sangat keren, sahabat-sahabatnya tak pernah tahu dari mana Chacha bisa
memainkan seluruh alat musik dengan baik tapi mereka mengakui permainan Chacha
memang lebih menarik.
“Ini
lagu terakhir dari kami,” suara Chacha menggema dan mampu menghipnotis
penonton.
“Dan
kali ini saya akan menggantikan posisi Novi sebagai pemegang melody sekaligus
sebagai vokalis, saya harap kalian mengijinkan, karena saya ingin
mempersembahkan lagu ini untuk ayah saya yang telah berada di sisi Allah SWT,”
Chacha mengucapkan sederet kalimat itu dengan kepala menunduk, hadirin menatap
serius dan mengangguk penuh makna.
Untuk
Ayah tercinta
Aku
ingin bernyanyi
Walau
air mata di pipiku
Ayah
dengarkanlah
Aku
ingin berjumpa
Walau
hanya dalam mimpiku
Rinai
air mata membasahi pipi Chacha yang mulai merah menahan perih, banyak penonton
yang juga ikut menitikkan air mata, dan pula yang hanya mengusap garang sudut
matanya, suasana berubah menjadi haru biru.
*^*^*
“Anak-anakku
yang bapak cintai.. bapak sangat bangga pada kalian semua yang punya kretifitas
unik dan menarik, jadi.. kali ini bapak tidak akan mengingatkan kalian akan
kesadaran untuk menuntut ilmu, menggali bakat dan lain-lain,” Pujian tulus dari
Pak Kepala sekolah di akhir acara dapat
melukiskan garis simpul menawan pada setiap siswa yang hadir.
“Namun
kali ini bapak akan meminta Elsa Khoirunnisa untuk menyampaikan rahasianya,
mengapa ia bisa selalu mendapat juara tapi juga tak pernah jera mendapatkan
sanksi lantaran ia sering terlambat dan tertidur di kelas, kepada Ananda Elsa
Khoirunnisa bapak persilahkan,” lagi-lagi para siswa bingung mereka
mencari-cari sosok yang disebutkan oleh Pak kepsek, dan ternyata hanya Chacha
yang tengah berdiri dan siap kembali melangkah ke atas panggung.
“Assalamu’alaikum
wa rahmatullahi wa barokaatuh,” salam hangat Chacha kembali menggema, dan
dijawab serempak oleh semua yang hadir.
“Terimaksih
untuk Pak Kepsek, dan salam santun, serta salam hormat saya haturkan untuk
guru-guruku dan teman-temanku yang saya cintai, langsung saja.. mungkin tadi
kalian sempat bingung karena selama ini kalian hanya mengenal saya sebagai
Chacha yang suka terlambat dan ngantuk di kelas, tanpa kalian tahu saya
memiliki sisi lain di mata guru-guru sebagai Elsa Khoirunnisa yang selalu
mendapat nilai tertinggi hingga semester kemaren,” papar Chacha panjang lebar.
“Selain
saya suka terlambat dan ngantuk di kelas, saya punya kebiasaan buruk lain yaitu
imsomnia, itulah yang membuat saya belajar serius saat kalian tertidur
pulas, namun usai sholat subuh, saya
akan membaca novel untuk merefresh otak saya, makanya teman-teman sekamar saya
pun tak pernah mendapati saya tengah membaca buku pelajaran, tapi dengan
penuturan saya kali ini, saya menaruh harapan besar pada kalian agar bisa
memaknai sebuah perjuangan, iya.. tak ada kesuksesan yang tidak ditebus dengan
perjuangan dan pengorbanan, tapi jika kalian ingin berjuang, saya pun punya
harapan, semoga kalian tidak mengikuti caraku yang kurang benar.. dan satu
lagi.. mengenai kemampuan saya dalam memainkan alat musik itu merupakan bakat
yang diturunkan oleh almarhum Abii, jadi dari kecil saya memang sudah menyatu
dengan musik dan kebetulan SD dan SMP tempatku dulu belajar memiliki eskul
musik yang amat lengkap namun semenjak saya tinggal di asrama saya mulai jarang
berlatih dan mulai menyukai karya sastra, hingga kali ini saya berharap kelak
saya pun bisa menjadi bagian dari penulis-penulis hebat yang tercatat dalam
sejarah sastra Indonesia,” Chacha memberi jeda
“Dan
terakhir.. saya ingin menekankan pada kalian semua, bahwa jilbab bukanlah
menjadi penghalang untuk berekspresi, jilbab berfungsi sebagai hijab untuk
mencegah kita dari perbuatan-perbuatan dzolim, dan pesanku untuk kalian
hususnya sahabat-sahabat perempuan saya, jadilah muslimah kuat dan hebat!!, terimakasih telah berkenan memperhatikan,
sukses selalu untuk kita semua,” kalimat terakhir Chacha disambut oleh tatapan
takjub dan tak berapa lama gemuruh tepuk tangan mulai membahana.
Sedangkan
di balik panggung, Chacha menunduk dalam dan bergeming pilu
”Ini
untuk Abii dan Ummii, Chacha sayang Abii dan Umii,” tanpa
terasa kristal bening melompat nakal dan membasahi pipi Chacha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar