Minggu, 21 April 2013

Semua Tentang Chacha



“Ayo berangkat, Cha..!” Santi mencoba mengingatkan Chacha sambil menyambar tas penuh berbagai macam buku yang telah disiapkannya tadi malam, namun hingga Santi berlalu meninggalkan Chacha sendirian pun, Chacha masih saja hanyut dalam imajinasinya, sebuah novel berjudul Bukotachi no Unmei telah menyihirnya, membuat Chacha lupa segalanya, teman-temannya pun tak ia hiraukan sama sekali, padahal bukan cuma Santi yang sudah mengingatkan Chacha untuk sekolah, May dan Novi telah melakukan hal yang sama dengan Santi, tapi ya begitulah Chacha, kalau sudah berhdapan dengan Novel dia akan hidup dalam dunia yang ia ciptakan sendiri, makan, mandi, sekolah dan teman-temannya sih lewaaat...
Setelah teman-teman sekamarnya tak ada yang tersisa di ruangan yang Chacha tempati, keadaan Chacha tambah kritis, dia mulai senyum-senyum sendiri dan tak lama lagi dia menangis sesenggukan. Benar-benar memprihatinkan, hingga detik ia meletakan buku di lemari pun  pipinya masih saja blepotan ingus dan air mata.
“Haaa??? Jam 9????” sederet kata yang sudah biasa Chacha ucapkan setiap pagi, kemudian secepat kilat Chacha menyambar handuk dan meluncur ke kamar mandi.
*^*^*
“Chacha! Berenti!!!” teriak Pak Satpam garang.
“Eh bapak.., bikin kaget aja..,” sahut Chacha enteng tak memperdulikan muka Pak Satpam yang memerah karena menahan amarah.
“Ini jam  berapa, hah?? Kamu ini sudah besar masih aja gak ngerti jam, yang lain istirahat kamu malah baru datang..,”
“Maaf, pak.. gak sengaja..”
“Gak sengaja kok nyampe 40 kali?? Baca tulisan di gerbang tuh..! Masuk pukul 07.00, paham??” kali ini kumis Pak Satpam turun setengah.
“Maaf, pak.. kumisnya benerin dulu tuh..he,” sepontan Pak Satpam mengusap-usap kumisnya yang hampir copot.
“Dasar bandel! Kalau 60 hari kedepan kamu masih terlambat, Pak Kepsek tidak akan segan-segan mengeluarkanmu,” Pak Satpam mulai salting gara-gara kumisnya yang hampir copot.
“Siap, Pak! Berarti masih ada 60 kesempatan lagi kan, Pak??” sahut Chacha lega.
“Ha?? Apa kamu bilang?? Sekarang ikut saya!!” Pak satpam pun menyeret Chacha secara paksa. Dan Chacha hanya bisa pasrah.
*^*^*
Santi, May dan Novi tampak melangkah gemulai bak tengah berjalan di atas catwalk, sedang Chacha dari tengah lapangan memandang mereka geram, hingga kaca mata Chacha yang kegedean turun ke hidung mancungnya, dan ternyata kali ini bibir Chacha pun tak kalah mancung dengan hidung kebanggaannya.
“May, Nov.. coba kalian liat ke lapangan! Itu Chacha, kan??” Kini Santi mulai menyadari keadaan kritis sahabat satunya itu.
“Iya, lu bener, San.. itu Chacha, gua hafal betul kibaran kerudungnya,” jawab May asal, setelah saling melirik penuh arti, ketiga gadis itu pun berlari ke tengah lapangan dan menyerbu sahabatnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
“Lu ngapain ngangkat kaki sebelah sambil narik-narik telinga lu gituh??” Santi selalu menjadi orang yang pertama bersuara.
“Iya, kenapa lu saingan ama tiang bendera, Cha?” May mulai ikut menyerbu.
“Kibaran kerudung lu udah mau nyaingin bendera merah putih noh.. tapi masih kurang warna merahnya, gue tambahin yah, Cha?” Novi pun tak mau kalah.
“Udah nanyanya?? Pergi sono!!!” Bentak Chacha sewot.
“Idiiiiiiih marah nih yeeeee??” sepontan ketiga sahabat Chacha menciptakan paduan suara yang sama sekali tak terdengar merdu, namun tak berapa lama mereka berlari ke kantin kerena menyadari kepala Chacha sudah hampir keluar tanduk. Namun Chacha hanya menghela nafas panjang sambil terus menatap jam yang melilit erat di pergelangan tangannya. Satu menit, lima menit, 10 menit dan... teeeeeet, waktu istirahat berakhir , inilah waktu yang amat Chacha nantikan. Ia pun mulai berlari ke kamar mandi dan mengambil air wudhu’ dengan harapan ia dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
Begitu sampai di kelas Chacha mendapati ketiga sahabatnya sudah duduk rapi, Santi tampak tengah asyik memainkan rambut panjangnya, sedang May dan Novi tengah ketawa-ketiwi tak jelas.
“San, lu seneng banget punya rambut panjang yah?” tanya Chacha polos, sambil mengambil posisi duduk manis di dekat Santi.
“Ya gituh, Cha.. Emang lu gak gerah yah pake jilbab siang bolong begini??” Santi balik bertanya.
“Gue lebih takut panasnya api neraka, San.. soalnya kata Ummii kalo gak mau pake kerudung  tuh kelak kita akan dibakar oleh api neraka yang panasnya berlipat-lipat dari api di dunia, San..,” Chacha mulai berkhotbah ria.
“Gue juga takut sih.. tapi gue pake kerudungnya kalo sikap gue udah bener aja ah.”
“San, kata Ummii.. Al insanu makhalul khotho’ wa nisan.. “
“Nisan??? Emang kuburan??? Nisyan kaliii,” potong Santi sepontan hingga membuat Chacha menganga dalam beberapa detik.
“Nah.. tuh lu tahu dalilnya, pastinya lu udah tahu kan kalo manusia tuh tempatnya salah dan lupa, jadi.. kita harus mau berusaha biar terus lebih baik,  makanya mari kita sama-sama menata dhohir kita, kemudian kita beranjak menata bathin kita, gimana??” lanjut Chacha hati-hati.
“Bentar dulu deh, Cha.. gue pake kerudungnya kalo udah jadian ama Heru, dia kan cowok cool yang gak suka sama cewe-cewe cupu kayak lu, hehehe maaf, Cha.. keceplosan..” Santi mengangkat dua jarinya tanda meminta perdamaian, Chacha hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Lu tuh kebanyakan syarat tahu.. ngakunya islam 100% tapi pake kerudung aja nunggu kalo gini, dan kalo gituh, tapi tak apa lah, yang penting gue udah ngingetin lu,” sahut Chacha pasrah, ia sudah sering mengingatkan Santi, Novi dan May, tapi jawaban mereka semua hampir sama, menunggu beberapa syarat terpenuhi.
*^*^*
Pagi ini Chacha bersiap-siap lebih awal dari sahabat-sahabatnya, namun setelah menyadari sahabatnya masih asyik-asyikan memainkan berbagai alat musik penuh keseriusan, Chacha mulai merasa heran. Dan tanpa rasa sungkan Chacha pun melayangkan beberapa pertanyaan.
“Kalian kok belum siap-siap?? Mau pada nyobain berdiri samping tiang bendera kaya gue kemaren yah??”
“Pliiss deh, Cha.. sekarang tuh HUT yang ke 45 buat sekolah kita tercinta, lu gak liat apa?? Kita-kita kan dari kemaren sibuk nyiapin diri buat ikutan pensi entar siang,” Lagi-lagi santi yang bersuara lebih awal, dan kali ini kedua sahabatnya yang lain hanya mengannguk setuju.
“Oh.. begono.. Ya udah gue berangkat duluan yah?? Bye..”
“Lu mau kemana, Cha??” teriak Santi lantang hingga menghentikan langkah Chacha.
“Gue mau nengok matahari, San.. kasian tuh.. tiap hari muncul cepat-cepat tapi gue yang ditungguin malah ngumpet terus di kamar,” Sahut Chacha enteng sambil keluar kamar, dan kini giliran ketiga sahabatnya yang geleng-geleng kepala.
*^*^*
Chacha memperhatikan beberapa teman sekolahnya yang tengah sibuk mempersiapkan acara peringatan hari jadi sekolahnya, namun ingatan Chacha masih mengembara pada sosok ayah yang tak pernah ia ketahui bagaimana wajahnya, dan seperti apa senyumnya, Chacha nampak sedikit mendung setiap usai ziarah ke makam ayahnya, sebenarnya Chacha ingin sesekali berkata pada teman-temannya kata Abii, bla bla bla, namun apalah daya, Ayahnya telah pulang ke sisi-Nya saat Chacha masih dalam kandungan ibunya, inilah sebabnya Chacha tinggal di asrama padahal ia asli penduduk daerah sini, ya begitulah.. ibunya harus mencari penghidupan di kota metropolitan untuk membiayai sekolah dan keperluan hidupnya.
“Cha.. pagi-pagi kok cemberut?? Pak mentari gak mau nrima maaf lu yah??” suara Santi mengagetkan Chacha.
“Hehehe,” Chacha hanya nyengir kerbau, ups! Maaf, emang kerbau bisa nyengir yah?? But.. whatever lah.. ^_^
“San, kok kayanya cuma gue yang pake seragam sekolah lengkap yah?” lanjut Chacha sambil tengok ke kanan-kiri.
“Waktu upaca bendera hari senin kemaren kan Pak Kepsek udah ngumumin husus hari ini kita diijinin pake baju bebas.”
“Chacha mana tau, San.. dia kan kemaren gak ikut upacara,” tanpa persetujuan Chacha novi yang menyahut ucapan Santi.
“Udah lah.. gak perlu ngibutin pakean, liat tuh lapangan udah penuh, kita gak kebagian duduk deket panggung,” May mulai angkat bicara, dan seperti mendapat komando dari atasan, mereka pun langsung berbaur dengan teman-teman lainnya.
*^*^*
Kini Chacha sudah kembali menjadi gadis yang ceria, dia begitu terhibur dengan penampilan teman-temannya dan kini giliran sahabat-sahabatnya yang mendapat jatah menampilkan kebolehannya, Santi, May dan Novi mulai cipika-cipiki dengan Chacha begitu mengetahui giliran mereka akan datang. Dengan dress panjang yang sama mereka melangkah ke atas panggung penuh percaya diri, namun setelah berda di atas panggung mereka tak juga menunjukan  kreatifitas mereka. Dan sepontan para penonton berteriak “Huuuuuuuuuu,” ada pula yang berteriak “Turun! Turun!”, melihat kejadian seperti itu Chacha langsung melempar kaca matanya yang kegedean dan berlari menuju panggung, menerobos kerumunan. Semua mata terpana melihat wajah cantik Chacha yang selama ini tertutup kaca mata cupunya, dan dengan gesit Chacha membenarkan kabel-kabel yang menghambat jalannya acara.
“Jreng!” satu petikan gitar dari santi menandakan usaha Chacha berhasil.
“Wah.. lu hebat, Cha,’” puji Santi tulus.
“Chacha.. Chacha.. Chacha..” penonton mulai meneriakkan nama Chacha penuh semangat.
“Lu gak boleh turun, Cha.. Lu harus bertanggung jawab dan gabung sama kita-kita,” lanjut Santi, Chacha hanya mengangguk dan berdiri di belakang keyboard sesuai permintaan sahabat-sahabatnya. Mereka membuka penampilan dengan membawakan lagu milik Cakra, dan kemudian Separuh aku miliknya Noah, dan saat membawakan lagunya Noah Chacha tukar posisi dengan May, dan ternyata permainan drum Chacha sangat keren, sahabat-sahabatnya tak pernah tahu dari mana Chacha bisa memainkan seluruh alat musik dengan baik tapi mereka mengakui permainan Chacha memang lebih menarik.
“Ini lagu terakhir dari kami,” suara Chacha menggema dan mampu menghipnotis penonton.
“Dan kali ini saya akan menggantikan posisi Novi sebagai pemegang melody sekaligus sebagai vokalis, saya harap kalian mengijinkan, karena saya ingin mempersembahkan lagu ini untuk ayah saya yang telah berada di sisi Allah SWT,” Chacha mengucapkan sederet kalimat itu dengan kepala menunduk, hadirin menatap serius dan mengangguk penuh makna.
Untuk Ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpiku
Rinai air mata membasahi pipi Chacha yang mulai merah menahan perih, banyak penonton yang juga ikut menitikkan air mata, dan pula yang hanya mengusap garang sudut matanya, suasana berubah menjadi haru biru.
*^*^*
“Anak-anakku yang bapak cintai.. bapak sangat bangga pada kalian semua yang punya kretifitas unik dan menarik, jadi.. kali ini bapak tidak akan mengingatkan kalian akan kesadaran untuk menuntut ilmu, menggali bakat dan lain-lain,” Pujian tulus dari Pak Kepala sekolah  di akhir acara dapat melukiskan garis simpul menawan pada setiap siswa yang hadir.
“Namun kali ini bapak akan meminta Elsa Khoirunnisa untuk menyampaikan rahasianya, mengapa ia bisa selalu mendapat juara tapi juga tak pernah jera mendapatkan sanksi lantaran ia sering terlambat dan tertidur di kelas, kepada Ananda Elsa Khoirunnisa bapak persilahkan,” lagi-lagi para siswa bingung mereka mencari-cari sosok yang disebutkan oleh Pak kepsek, dan ternyata hanya Chacha yang tengah berdiri dan siap kembali melangkah ke atas panggung.
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh,” salam hangat Chacha kembali menggema, dan dijawab serempak oleh semua yang hadir.
“Terimaksih untuk Pak Kepsek, dan salam santun, serta salam hormat saya haturkan untuk guru-guruku dan teman-temanku yang saya cintai, langsung saja.. mungkin tadi kalian sempat bingung karena selama ini kalian hanya mengenal saya sebagai Chacha yang suka terlambat dan ngantuk di kelas, tanpa kalian tahu saya memiliki sisi lain di mata guru-guru sebagai Elsa Khoirunnisa yang selalu mendapat nilai tertinggi hingga semester kemaren,” papar Chacha panjang lebar.
“Selain saya suka terlambat dan ngantuk di kelas, saya punya kebiasaan buruk lain yaitu imsomnia, itulah yang membuat saya belajar serius saat kalian tertidur pulas, namun usai sholat  subuh, saya akan membaca novel untuk merefresh otak saya, makanya teman-teman sekamar saya pun tak pernah mendapati saya tengah membaca buku pelajaran, tapi dengan penuturan saya kali ini, saya menaruh harapan besar pada kalian agar bisa memaknai sebuah perjuangan, iya.. tak ada kesuksesan yang tidak ditebus dengan perjuangan dan pengorbanan, tapi jika kalian ingin berjuang, saya pun punya harapan, semoga kalian tidak mengikuti caraku yang kurang benar.. dan satu lagi.. mengenai kemampuan saya dalam memainkan alat musik itu merupakan bakat yang diturunkan oleh almarhum Abii, jadi dari kecil saya memang sudah menyatu dengan musik dan kebetulan SD dan SMP tempatku dulu belajar memiliki eskul musik yang amat lengkap namun semenjak saya tinggal di asrama saya mulai jarang berlatih dan mulai menyukai karya sastra, hingga kali ini saya berharap kelak saya pun bisa menjadi bagian dari penulis-penulis hebat yang tercatat dalam sejarah sastra Indonesia,” Chacha memberi jeda
“Dan terakhir.. saya ingin menekankan pada kalian semua, bahwa jilbab bukanlah menjadi penghalang untuk berekspresi, jilbab berfungsi sebagai hijab untuk mencegah kita dari perbuatan-perbuatan dzolim, dan pesanku untuk kalian hususnya sahabat-sahabat perempuan saya, jadilah muslimah kuat dan hebat!!,  terimakasih telah berkenan memperhatikan, sukses selalu untuk kita semua,” kalimat terakhir Chacha disambut oleh tatapan takjub dan tak berapa lama gemuruh tepuk tangan mulai membahana.
Sedangkan di balik panggung, Chacha menunduk dalam dan bergeming pilu
”Ini untuk Abii dan Ummii, Chacha sayang Abii dan Umii,” tanpa terasa kristal bening melompat nakal dan membasahi pipi Chacha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar