Minggu, 21 April 2013

Satu Jam Saja



Pohon beringin berdiri kokoh mengitari alun-alun kota wonosobo, dedaunan yang telah kering terseok-seok oleh angin nakal yang menggodanya, aku menengadah, sekedar untuk mencari sedikit petunjuk cuaca hari ini, aku pun tersenyum simpul melihat atap biru yang menghampar luas, inilah asyiknya tinggal di kota asri, deru kendaraan tidak membuat kota bising dan pengap.
Aku semakin asyik mengamati berbagai aktifitas yang tercipta secara natural, yang langsung disutradarai oleh Dzat Maha Agung, benar-benar seperti menonton film yang dibintangi oleh aktor dan aktris handal. Tanpa sengaja tatapanku terhenti pada gadis mungil yang tengah mengayunkan kedua tangannya hingga saling bertabrakan dan mampu menciptakan irama bak ketipung, begitu senada dengan suara kekanak-kanakannya. Ia menghampiri beberapa gerombolan remaja yang tengah asyik bercengkrama, namun tak ada satu pun yang berkenan memberikan uang padanya. Ia tertunduk lesu dan duduk di bawah pohon beringin yang tak jauh dari tempatku mengamatinya. Aku semakin tidak mengerti mengapa ia melakukan pekerjaan  yang tak pantas untuknya, dia mengenakan seragam TK bonafid di kota ini, tas punggung dan sepatu yang ia pakai pun jelas-jelas barang import. Mataku semakin membola ketika sedan putih berhenti tepat di depannya, pria setengah baya yang keluar dari sedan itu pun menghampirinya tergesa-gesa.
“Maafkan papah, Sayang.. Ema udah lama nunggu yah??” Ucap pria itu sambil membungkuk sejajar dengan gadis yang dipanggil Ema tadi.
“Gak, pah..,” sahut Ema lesu.
“Kalo gituh ayo kita pulang!” Papah Ema langsung berdiri sambil menggandeng tangan Ema. Namun tiba-tiba Ema menghentikan langkah kakinya. Papahnya menatap Ema tak mengerti.
“Pah, bisa gak kita duduk di sini sebentar..?” dari mata beningnya terlihat ia sangat mengharapkan permintaannya diamini oleh papahnya.
“Baiklah, Sayang.. tapi jangan lama-lama yah??” kali ini ucapan papahnya terdengar berat.
“Pah, bolehkah Ema meminjam uang papah seratus ribu saja??” tanya Ema hati-hati. Mata papahnya membola sempurna, dari guratan wajahnya, papah Ema tampak kesal, namun ia mencoba tetap menyahut lembut.
“Ema kan masih kecil, jadi jangan pegang uang dulu yah? Kalo mau beli-beli sesuatu minta aja sama mamah..” papar pria itu dengan nada berat hingga mata gadis mungil di depannya tampak berkaca-kaca, ia semakin menunduk dalam, bahunya terguncang hebat.
“Kenapa menangis?? Kita harus segera pulang, papah harus kembali ke kantor!” suara pria itu semakin meninggi.
“Bo..bolehkah Ema jujur??” sahut Ema lirih di sela-sela tangisnya.
“Boleh, Sayang..” suara papahnya mulai lembut kembali, nampaknya ia tidak tega melihat putrinya tergugu.
“Tadi Ema sempat mengamen demi uang seratus ribu, tapi tak ada seorang pun yang mau memberikan uang kepada Ema..”
“Memangnya untuk apa??” suara papahnya kembali meninggi
“E.e.ema.. Ema ingin membeli waktu papah satu jam saja, Ema pengen kaya temen-temen Ema bisa bermain skoter di sini bersama ayah mereka, tapi Ema tahu dari mamah satu jam di kantor sangat berarti buat papah, karena per jamnya papah dibayar seratus ribu, dan Ema ingin membeli waktu papah satu jam saja untuk menemani Ema bermain, tapi sampe sekarang Ema belum punya uang, jadi Ema mau pinjem dulu sama papah,” paparnya polos diiringi lelehan kristal bening di pipi merahnya. Seketika papahnya merangkul pundak kecil Ema sambil mengecup kening putrinya, embun bening hadir di sudut mata pria kekar itu, ia mulai menyadari betapa bodoh dirinya yang begitu sibuk memikirkan kecukupan materi, tanpa ia tahu ternyata putrinya sangat merasa miskin kasih sayang, mengamen demi menebus kasih sayang yang memang sudah seharusnya ia dapatkan. Lama ia mendekap Ema, hingga air mata keduanya mulai mengering.
“Ema tak perlu meminjam uang, Sayang.. siang ini papah temenin Ema main sampe sore, gimana??”
“Beneran, pah??” sahut Ema antusias, gemericik hujan kembali hadir dari mata polosnya. Tangan papahnya yang masih bergetar menghapus lembut air mata Ema.
“Jangan nangis lagi, Sayang..! Senyum dong..!” pria itu berusaha menyajikan suasana ceria dengan suara paraunya, meskipun begitu Ema tetap bisa tersenyum manis. Mereka pun beranjak bersama sambil bergandengan tangan.  ~The End~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar