Pohon
beringin berdiri kokoh mengitari alun-alun kota wonosobo, dedaunan yang telah
kering terseok-seok oleh angin nakal yang menggodanya, aku menengadah, sekedar
untuk mencari sedikit petunjuk cuaca hari ini, aku pun tersenyum simpul melihat
atap biru yang menghampar luas, inilah asyiknya tinggal di kota asri, deru
kendaraan tidak membuat kota bising dan pengap.
Aku
semakin asyik mengamati berbagai aktifitas yang tercipta secara natural, yang langsung
disutradarai oleh Dzat Maha Agung, benar-benar seperti menonton film yang
dibintangi oleh aktor dan aktris handal. Tanpa sengaja tatapanku terhenti pada
gadis mungil yang tengah mengayunkan kedua tangannya hingga saling bertabrakan
dan mampu menciptakan irama bak ketipung, begitu senada dengan suara kekanak-kanakannya.
Ia menghampiri beberapa gerombolan remaja yang tengah asyik bercengkrama, namun
tak ada satu pun yang berkenan memberikan uang padanya. Ia tertunduk lesu dan
duduk di bawah pohon beringin yang tak jauh dari tempatku mengamatinya. Aku
semakin tidak mengerti mengapa ia melakukan pekerjaan yang tak pantas untuknya, dia mengenakan
seragam TK bonafid di kota ini, tas punggung dan sepatu yang ia pakai pun
jelas-jelas barang import. Mataku semakin membola ketika sedan putih berhenti
tepat di depannya, pria setengah baya yang keluar dari sedan itu pun
menghampirinya tergesa-gesa.
“Maafkan
papah, Sayang.. Ema udah lama nunggu yah??” Ucap pria itu sambil membungkuk
sejajar dengan gadis yang dipanggil Ema tadi.
“Gak,
pah..,” sahut Ema lesu.
“Kalo
gituh ayo kita pulang!” Papah Ema langsung berdiri sambil menggandeng tangan
Ema. Namun tiba-tiba Ema menghentikan langkah kakinya. Papahnya menatap Ema tak
mengerti.
“Pah,
bisa gak kita duduk di sini sebentar..?” dari mata beningnya terlihat ia sangat
mengharapkan permintaannya diamini oleh papahnya.
“Baiklah,
Sayang.. tapi jangan lama-lama yah??” kali ini ucapan papahnya terdengar berat.
“Pah,
bolehkah Ema meminjam uang papah seratus ribu saja??” tanya Ema hati-hati. Mata
papahnya membola sempurna, dari guratan wajahnya, papah Ema tampak kesal, namun
ia mencoba tetap menyahut lembut.
“Ema
kan masih kecil, jadi jangan pegang uang dulu yah? Kalo mau beli-beli sesuatu
minta aja sama mamah..” papar pria itu dengan nada berat hingga mata gadis
mungil di depannya tampak berkaca-kaca, ia semakin menunduk dalam, bahunya
terguncang hebat.
“Kenapa
menangis?? Kita harus segera pulang, papah harus kembali ke kantor!” suara pria
itu semakin meninggi.
“Bo..bolehkah
Ema jujur??” sahut Ema lirih di sela-sela tangisnya.
“Boleh,
Sayang..” suara papahnya mulai lembut kembali, nampaknya ia tidak tega melihat
putrinya tergugu.
“Tadi
Ema sempat mengamen demi uang seratus ribu, tapi tak ada seorang pun yang mau
memberikan uang kepada Ema..”
“Memangnya
untuk apa??” suara papahnya kembali meninggi
“E.e.ema..
Ema ingin membeli waktu papah satu jam saja, Ema pengen kaya temen-temen Ema
bisa bermain skoter di sini bersama ayah mereka, tapi Ema tahu dari mamah satu
jam di kantor sangat berarti buat papah, karena per jamnya papah dibayar
seratus ribu, dan Ema ingin membeli waktu papah satu jam saja untuk menemani
Ema bermain, tapi sampe sekarang Ema belum punya uang, jadi Ema mau pinjem dulu
sama papah,” paparnya polos diiringi lelehan kristal bening di pipi merahnya.
Seketika papahnya merangkul pundak kecil Ema sambil mengecup kening putrinya,
embun bening hadir di sudut mata pria kekar itu, ia mulai menyadari betapa
bodoh dirinya yang begitu sibuk memikirkan kecukupan materi, tanpa ia tahu ternyata
putrinya sangat merasa miskin kasih sayang, mengamen demi menebus kasih sayang
yang memang sudah seharusnya ia dapatkan. Lama ia mendekap Ema, hingga air mata
keduanya mulai mengering.
“Ema
tak perlu meminjam uang, Sayang.. siang ini papah temenin Ema main sampe sore,
gimana??”
“Beneran,
pah??” sahut Ema antusias, gemericik hujan kembali hadir dari mata polosnya.
Tangan papahnya yang masih bergetar menghapus lembut air mata Ema.
“Jangan
nangis lagi, Sayang..! Senyum dong..!” pria itu berusaha menyajikan suasana
ceria dengan suara paraunya, meskipun begitu Ema tetap bisa tersenyum manis.
Mereka pun beranjak bersama sambil bergandengan tangan. ~The End~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar